NARASITODAY.COM,JAKARTA – Xinhua, media massa terbesar asal China, secara khusus mengulas kondisi perekonomian Indonesia terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Kamis pagi (4/6/2026), rupiah sempat menembus level psikologis baru di atas Rp 18.000 per dolar AS, menandai penurunan yang cukup tajam di tengah ketidakpastian global dan data ekonomi AS yang menunjukkan kekuatan lebih dari perkiraan pasar.
Dalam artikelnya berjudul “Indonesian rupiah weakens beyond 18,000 per dollar,” Xinhua menyampaikan bahwa mata uang Garuda melemah 0,27% menjadi 18.015 per dolar AS, sehingga total penurunan selama tahun ini mencapai lebih dari 7%. Kejatuhan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data ketenagakerjaan dan sektor jasa AS yang menunjukkan kekuatan yang stabil.
“Rupiah Indonesia melemah melewati angka psikologis 18.000 per dolar AS pada Kamis pagi di tengah ketidakpastian global dan data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan,” tulis laman tersebut. Para analis memperkirakan bahwa fluktuasi rupiah akan tetap berada dalam kisaran 17.900 hingga 18.050 per dolar, sementara Bank Indonesia menyatakan komitmennya untuk mengambil langkah-langkah “konsisten dan terukur” guna menstabilkan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan instrumen kebijakan dan menjaga likuiditas valuta asing agar stabil. “Dengan mengoptimalkan instrumen kebijakannya dan menjaga likuiditas valuta asing yang memadai,” kata pihak bank melalui pernyataan resmi.
Tak hanya membahas kondisi pasar mata uang, Xinhua juga mengulas dampaknya terhadap dunia usaha di Indonesia. Dalam artikel berjudul “Rupiah weakness prompts Indonesian firms to cut costs, freeze hiring,” disebutkan bahwa depresiasi rupiah semakin menekan sektor riil. Banyak perusahaan menunda rencana ekspansi, membatasi pengeluaran tidak penting, serta meningkatkan penggunaan bahan baku lokal dan strategi lindung nilai mata uang.
Shinta Kamdani, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menyampaikan bahwa banyak perusahaan melakukan langkah penghematan dan membekukan perekrutan tenaga kerja baru akibat melemahnya rupiah.
“Tantangan dunia usaha saat ini adalah dampaknya terhadap biaya produksi, pembiayaan, dan kepastian usaha,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sekitar 80 persen bahan baku Indonesia masih diimpor, sehingga biaya impor menjadi beban utama.
Xinhua menyoroti bahwa pelemahan rupiah telah meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor, termasuk tekstil, bahan kimia, petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, dan industri otomotif yang semuanya sangat bergantung pada bahan baku impor.
Selain itu, tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan turut memperberat beban perusahaan, menyebabkan aktivitas manufaktur dan kepercayaan dunia usaha melemah dalam beberapa bulan terakhir.
Shinta memperingatkan bahwa depresiasi saat ini lebih dalam dibandingkan dengan kuartal pertama tahun ini, ketika beberapa subsektor manufaktur sudah mengalami perlambatan atau kontraksi. Menurutnya, situasi ini menuntut perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Dalam situasi global yang penuh tantangan, kondisi rupiah yang melemah ini menjadi perhatian utama bagi pemerintah dan pelaku industri. Meski demikian, langkah-langkah strategis tetap terus diupayakan agar dampak negatif dapat diminimalisir dan perekonomian Indonesia tetap bergerak ke arah yang lebih stabil.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














