Sinyal Bahaya Demografi: Populasi Prancis Diprediksi Menyusut Lebih Cepat Mulai 2037

0
Prancis
Ilustrasi bendera Prancis berkibar tertiup angin.(Foto : Istock)

NARASITODAY.COM, PARISPrancis, negara yang selama ini dikenal memiliki ketahanan demografi paling kuat di Eropa, mulai menunjukkan tanda-tanda “penuaan” yang mengkhawatirkan.

Badan Statistik Nasional Prancis, Institut National de la Statistique et des Études Économiques (INSEE), merilis proyeksi mengejutkan pada Senin (8/6/2026): populasi Prancis akan mencapai titik puncaknya pada tahun 2037 tujuh tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya sebelum akhirnya terjun bebas dalam beberapa dekade ke depan.

Di sudut-sudut kota Paris yang ikonik, tawa anak-anak perlahan mulai digantikan oleh langkah sunyi para lansia. Statistik mencatat sebuah titik balik kelam pada tahun 2025 lalu, di mana angka kematian di Prancis resmi melampaui angka kelahiran.

Tren pertumbuhan alami yang negatif ini diprediksi akan terus mengunci Prancis dalam dekade-dekade mendatang. Artinya, hingga tahun 2037 nanti, pertumbuhan manusia di Negeri Mode ini tidak lagi lahir dari rahim para ibu di sana, melainkan sepenuhnya ditopang oleh gelombang migrasi.

Baca Juga :  Sekolah Tua Warisan Antam di Nanggung Nyaris Runtuh, Baru Akan Didatangi Pejabat Kecamatan

Data INSEE menunjukkan populasi Prancis akan merangkak naik dari 69,1 juta jiwa pada tahun 2026 ini menjadi 69,8 juta jiwa pada 2037. Namun setelah itu, grafik akan berbalik arah.

Jumlah penduduk diproyeksikan menyusut hingga menyentuh angka 65,9 juta jiwa pada tahun 2070 sebuah kemunduran yang membawa Prancis kembali ke situasi demografi mereka pada tahun 2014 lalu.

Proyeksi kelam ini mengoreksi total estimasi INSEE pada tahun 2021, yang semula meramal puncak populasi baru akan terjadi pada 2044 dengan angka 69,3 juta jiwa.

Ancaman Prancis Menjadi “Negara Lansia”

Baca Juga :  Apa Saja 5 Penyebab Sakit Leher Sebelah Kiri? Simak Penjelasannya di Sini!

Di masa depan, lanskap sosial Prancis dipastikan akan berubah drastis. Pada tahun 2070, sekitar sepertiga atau satu dari tiga penduduk Prancis akan berusia 65 tahun ke atas. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari total populasi anak muda di bawah usia 20 tahun.

Ledakan populasi justru terjadi pada kelompok usia senja. Jumlah warga berusia 80 tahun ke atas diprediksi melonjak dua kali lipat menjadi 9 juta orang. Sementara itu, fenomena centenarian warga yang berhasil hidup melampaui usia 100 tahun diperkirakan meroket empat kali lipat menjadi sekitar 160.000 orang.

Kondisi ini ibarat bom waktu bagi perekonomian Prancis. Berkurangnya jumlah penduduk usia produktif secara drastis akan langsung memukul pasar tenaga kerja, mengguncang sistem pensiun, dan membebani pembiayaan layanan publik di masa depan. Prancis kini tidak lagi kebal dari tekanan demografi yang sedang mencekik keuangan berbagai negara maju di Eropa.

Baca Juga :  Bhumjaithai Menang Telak, Anutin Janjikan Pemerintahan Efektif

Risiko Skenario Terburuk

Situasi ini bahkan bisa berakhir jauh lebih mengerikan. INSEE memperingatkan adanya risiko penurunan populasi yang jauh lebih tajam apabila pilar penyangga yang ada saat ini runtuh.

Menurut INSEE, populasi Prancis berpotensi turun hingga hanya 54,6 juta jiwa pada tahun 2070 apabila arus migrasi melemah atau tingkat kesuburan turun di bawah asumsi dasar sebesar 1,45 anak per perempuan.

Dengan angka kesuburan yang terus menipis dan bayang-bayang krisis tenaga kerja di depan mata, Prancis kini berkejaran dengan waktu untuk merombak kebijakan publik mereka sebelum ruang-ruang kelas di sekolah berubah menjadi panti jompo.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com