NARASITODAY.COM,JAKARTA – Ketergantungan kronis Indonesia terhadap pasokan gas asing kini tengah coba diurai. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang meracik program kompor listrik dengan teknologi baru. Langkah taktis ini diambil sebagai bagian dari strategi nasional untuk memangkas ketergantungan yang kelewat tinggi terhadap Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Saat ini, potret ketahanan energi Indonesia memang masih dibayangi oleh angka impor yang mengkhawatirkan. Sekitar 80% dari total kebutuhan gas rumah tangga nasional harus didatangkan dari luar negeri. Imbasnya, tangki devisa negara dan anggaran subsidi energi terus terkuras dalam jumlah yang fantastis demi menjaga dapur masyarakat tetap mengepul.
“Dan devisa kita setiap tahun keluar untuk LPG minimal Rp120 triliun, di saat ICP (harga minyak mentah Indonesia) seperti ini, harga devisa kita keluar untuk membeli LPG itu sekitar di atas Rp130 triliun. Subsidinya di atas Rp80 triliun,” beber Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, dikutip Rabu (17/6/2026).
Melihat angka-angka tersebut, Bahlil menegaskan situasi ini tidak boleh dibiarkan tanpa adanya langkah terobosan. Kendati demikian, pemerintah tampaknya belajar dari masa lalu.
Berbeda dengan program konversi terdahulu yang sempat memicu penolakan dan keraguan di tengah masyarakat, proyek kali ini diklaim membawa pembaruan yang jauh lebih matang.
Kompor listrik yang akan didistribusikan nanti disebut-sebut mengadopsi inovasi mutakhir yang ramah pengguna serta disesuaikan dengan kapasitas daya rumahan di Indonesia.
“Ada model kompor listrik yang model baru. Jadi memang semakin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik yang lama. Nah kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru,” terang Bahlil menambahkan.
Kucuran Anggaran Ratusan Miliar di 2027
Keseriusan pemerintah dalam menggolongkan program ini tecermin dari kesiapan finansial yang telah disusun. Kementerian ESDM dilaporkan telah mengalokasikan anggaran jumbo sebesar Rp815,56 kali lipat miliar yang khusus diplot untuk program pengadaan kompor listrik pada tahun anggaran 2027 mendatang.
Dana tersebut nantinya akan dikelola langsung di bawah pagu anggaran Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), serta telah resmi tercantum dalam Surat Bersama Pagu Indikatif (SBPI).
“Kompor listrik, ini karena kita mengurangi kebutuhan LPG, kita cari bauran energi lain. Jadi energi lain kita bukan hanya LPG, ada kompor listrik, CNG (gas alam terkompresi), dan lain-lain itu Rp815,56 miliar,” kata Bahlil saat memaparkan rencana tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI pada Senin (15/6/2026).
Langkah diversifikasi energi ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tengah serius menata ulang lanskap konsumsi energinya. Tak hanya menyasar sektor dapur, komitmen transisi energi ramah lingkungan ini juga merambah sektor transportasi.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian ESDM turut mengumumkan alokasi anggaran sebesar Rp635,24 miliar untuk menyokong program perluasan motor listrik secara nasional.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














