NARASITODAY.COM, ZURICH — Ketegangan adu penalti dalam sepak bola tidak hanya menguras keringat dan emosi di lapangan hijau, tetapi sering kali sudah dimulai sejak wasit melemparkan koin logam ke udara.
Menjelang fase gugur Piala Dunia 2026, FIFA dikabarkan tengah mengupayakan perubahan regulasi demi mengikis faktor “keberuntungan ganda” yang dinilai kurang adil bagi tim yang bertanding.
Selama lebih dari empat dekade, adu penalti menjadi vonis terakhir penentu pemenang ketika laga fase gugur tetap imbang setelah 90 menit waktu normal dan babak perpanjangan waktu. Namun, otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut menilai ada celah yang bisa diperbaiki agar atmosfer tos-tosan menjadi lebih adil.
Pangkas Menjadi Satu Kali Lempar Koin
Dalam prosedur yang berlaku saat ini, wasit harus melakukan dua kali lempar koin sebelum babak adu penalti dimulai.
- Undian pertama: Menentukan tim mana yang mengambil tendangan lebih dulu.
- Undian kedua: Menentukan di depan gawang mana eksekusi akan dilakukan.
Sistem ini kerap melahirkan nasib sial yang berlipat ganda. Sebuah tim bisa saja kalah dalam kedua undian tersebut sekaligus kehilangan kesempatan menendang pertama, sekaligus terpaksa bermain di hadapan tribune yang dipadati suporter lawan.
Berdasarkan laporan The Times, FIFA mengusulkan reformasi radikal ia hanya akan ada satu kali lempar koin. Melalui skema baru ini, kapten tim yang memenangkan tos koin tidak lagi borong keuntungan. Ia hanya boleh memilih salah satu fasilitas yaitu menentukan urutan penendang atau memilih sisi gawang. Hak yang tersisa otomatis jatuh ke tangan kapten lawan.
Sebagai ilustrasi, jika Tim A memenangkan lempar koin dan memilih untuk mengeksekusi penalti pertama, maka Tim B langsung mendapat hak prerogatif untuk menentukan gawang mana yang akan digunakan. Langkah ini diharapkan mampu mereduksi ketidakadilan psikologis sebelum perang mental dimulai.
Menanti Ketukan Palu IFAB
Ambisi FIFA tidak main-main. Mereka menargetkan regulasi baru ini sudah bisa diadopsi langsung pada babak gugur Piala Dunia 2026.
Kendati demikian, FIFA tidak bisa melangkah sendiri. Perubahan aturan ini baru bisa sah berlaku jika mengantongi lampu hijau dari International Football Association Board (IFAB), badan yang memegang otoritas penuh atas regulasi sepak bola global. Jika IFAB mengetok palu persetujuan sebelum fase sistem gugur dimulai, maka wajah baru adu penalti akan langsung tersaji di turnamen edisi kali ini.
Mitos atau Fakta: Penendang Pertama Pasti Menang?
Upaya FIFA ini kembali memicu perdebatan lama tentang seberapa besar pengaruh urutan penendang terhadap hasil akhir.
Melansir laporan Sports Illustrated, sederet penelitian masa lalu menyimpulkan bahwa tim yang mengambil eksekusi pertama memiliki persentase kemenangan yang lebih tinggi. Alasan utamanya adalah faktor psikologis, di mana penendang kedua selalu berada di bawah tekanan berat untuk terus menyamakan kedudukan.
Namun, benarkah demikian? Nyatanya, sains tidak selalu sepakat.
Sebuah riset terbaru yang dipimpin oleh David Pipke dan dipublikasikan dalam Journal of Economic Psychology pada tahun 2025 memberikan sudut pandang kontras. Pipke membedah data masif yang mencakup sekitar 7.000 babak adu penalti dan lebih dari 74.000 tendangan penalti.
Hasilnya mengejutkan yaitu tidak ditemukan bukti empiris yang kuat bahwa tim yang menendang lebih dulu memiliki peluang menang lebih besar. Temuan ini mengindikasikan bahwa mitos “keuntungan penendang pertama” mungkin tidak sesignifikan yang ditakuti selama ini.
Meski data ilmiah menunjukkan dinamika yang berimbang, FIFA tampaknya tetap teguh pada pendiriannya. Bagi mereka, menyempurnakan mekanisme adu penalti bukan sekadar soal statistik di atas kertas, melainkan tentang menghadirkan rasa keadilan yang murni di atas lapangan hijau yang penuh drama.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














