NARASITODAY.COM, TEL AVIV – Ruang sakral upacara kelulusan perwira militer di Israel selatan mendadak riuh oleh ketegangan politik. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali harus menelan pil pahit ketika pidato resminya dihujani teriakan yang mendesak dirinya untuk segera meletakkan jabatan.
Insiden yang tidak biasa ini terjadi di pangkalan militer Bahad 1, yang merupakan jantung sekolah pendidikan perwira Angkatan Bersenjata Israel. Berdasarkan laporan dari Middle East Monitor, Jumat (26/6/2026), suasana khidmat pelantikan perwira baru tersebut pecah saat sejumlah peserta upacara secara lantang meneriakkan slogan anti-pemerintah tepat ketika Netanyahu berdiri di podium.
Media lokal Israel, Yedioth Ahronoth, melaporkan bahwa gema tuntutan mundur tersebut terdengar sangat jelas di area pangkalan, menginterupsi jalannya pemaparan Netanyahu mengenai situasi keamanan nasional. Meski atmosfer di hadapannya memanas, Netanyahu memilih mengabaikan sorakan tersebut. Ia tetap melanjutkan orasinya dengan nada tegas, mencoba mengalihkan fokus audiens pada kondisi darurat yang sedang dihadapi negara.
Di atas podium, Netanyahu menegaskan posisi geopolitik Israel saat ini yang dinilainya sedang berada di titik paling krusial.
Israel kini berada “di puncak perang regional yang masih berlangsung,” ujar Netanyahu di tengah kepungan interupsi massa.
Polarisasi yang Menembus Tembok Barak
Pernyataan itu diutarakannya di saat operasi militer Israel masih terus berkecamuk di beberapa kawasan, berkejaran dengan gelombang demonstrasi di dalam negeri yang kian hari kian menyudutkan kabinetnya.
Aksi protes di tengah upacara militer resmi seperti ini tergolong sangat langka di Israel. Peristiwa ini menjadi potret nyata betapa dalamnya jurang polarisasi politik yang kini telah menembus institusi pertahanan negara. Dalam beberapa bulan terakhir, arus kritik terhadap Netanyahu memang mengalir deras, baik dari barisan oposisi maupun publik yang merasa frustrasi atas kegagalan pemerintah dalam menyelesaikan krisis keamanan, termasuk konflik di Gaza.
Sentimen negatif ini diperparah oleh serangan verbal dari para elit politik rivalnya. Pemimpin oposisi, Avigdor Liberman, bahkan secara blak-blakan melontarkan tuduhan tajam bahwa Netanyahu sengaja memelihara konflik dan menyeret Israel menuju ambang “perang saudara” hanya demi menyelamatkan kursi kekuasaannya dari kejatuhan.
Insiden di Bahad 1 ini menjadi alarm keras bagi pemerintahan Netanyahu, menunjukkan bahwa tekanan politik yang ia hadapi tidak lagi hanya bergema di jalanan kota, melainkan sudah mulai menyusup ke dalam barisan prajuritnya sendiri.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














