China Respon Pedas terhadap Pernyataan Jepang soal Pengembangan Kemampuan Militer di Tengah Ketegangan Regional

0
China
Ilustrasi bendera Tiongkok dan Jepang.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BEIJING – Panggung diplomasi Asia Timur kembali membara. Hubungan bilateral antara China dan Jepang yang sempat mendingin kini berada di titik nadir, setelah Beijing melayangkan kecaman keras terhadap Menteri Pertahanan Jepang yang baru, Shinjiro Koizumi.

Pemerintah pimpinan Presiden Xi Jinping menuduh Tokyo sengaja menyebarkan klaim “tidak berdasar” dan memicu kebingungan publik internasional terkait transparansi militer China.

Ketegangan terbaru ini dipicu oleh pidato Menhan Koizumi pada forum tahunan Dialog Shangri-La IISS di Singapura, Minggu (31/5/2024). Dalam forum tersebut, Koizumi menegaskan komitmen Jepang untuk terus memperkuat otot militernya seraya memperingatkan dunia tentang ekspansi militer China yang dinilainya tidak transparan. Menurutnya, perkembangan kemampuan militer Beijing saat ini merupakan “masalah yang sangat mengkhawatirkan bagi Jepang”.

Merespons hal itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, langsung melancarkan serangan balik verbal yang sengit dalam konferensi pers di Beijing, Senin (1/6/2026).

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Masih Selidiki Dugaan Kasus Pedofilia Warga Negara Jepang di Blok M

“Mereka tampak pucat dan lemah di hadapan serangkaian fakta dan angka historis dan hukum,” tegas Lin Jian.

Lin Jian menilai argumen yang dilemparkan oleh pihak Jepang tidak memiliki dasar yang kuat. “Pejabat Jepang ini dengan sengaja… mencoba membalikkan keadaan dan menabur kebingungan,” tambahnya.

Ia juga menuding bahwa seruan komunikasi yang kerap digaungkan Tokyo selama ini tidak lebih dari sekadar pemanis di depan layar. “Dialog yang disebut-sebut Jepang hanyalah kemunafikan-pertunjukan yang dilakukan untuk pencitraan, tanpa ketulusan yang sebenarnya.”

Warisan Ketegangan dan Babak Baru Militerisme Tokyo

Perselisihan diplomatik ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari gesekan politik selama berbulan-bulan yang telah mendistorsi hubungan kedua negara sejak November 2025. Kala itu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memicu kemarahan besar Beijing setelah secara terbuka menyatakan bahwa Jepang dapat melakukan intervensi militer jika China mencoba merebut Taiwan pulau berpemerintahan sendiri yang diklaim Beijing sebagai wilayah kedaulatannya.

Baca Juga :  6 Pria Cedera Serius di Festival Hadaka Matsuri Okayama

Di bawah komando PM Takaichi, Negeri Sakura memang sekian langkah lebih agresif dalam merombak doktrin keamanannya. Jepang kian berani menanggalkan prinsip pasifisme (pandangan pasif) yang telah mereka anut dalam strategi global sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Dalam cetak biru pertahanan barunya, Koizumi menegaskan bahwa Tokyo tidak akan mengerem modernisasi militernya.

“Tokyo akan terus meningkatkan kemampuan pertahanannya dan melakukan pembaruan berkelanjutan dengan tingkat transparansi yang tinggi, termasuk di bidang kecerdasan buatan, sistem tanpa awak, serta pertahanan siber dan ruang angkasa,” cetus Koizumi di Singapura.

Baca Juga :  Gol “Ajaib” Lamine Yamal Buka Peluang Barcelona ke Final Liga Champions

Bayang-Bayang Masa Lalu di Asia Timur

Bagi Beijing, arah kebijakan luar negeri Jepang saat ini adalah alarm bahaya. Pemerintah China berulang kali mengecam langkah sekutu dekat Amerika Serikat tersebut sebagai bentuk “militerisme baru”. Kebijakan ini dinilai sebagai tindakan gegabah yang berpotensi merusak arsitektur keamanan dan menggoyahkan stabilitas kawasan Asia Pasifik.

Kini, retorika keras yang saling dilemparkan kedua raksasa Asia ini menegaskan bahwa laut di antara mereka tidak lagi tenang. Di satu sisi, Tokyo merasa terancam dan memilih mempersenjatai diri; di sisi lain, Beijing melihat pergerakan tersebut sebagai provokasi yang menghidupkan kembali trauma sejarah masa lalu. Roda pasifisme Jepang telah resmi bergeser, dan Asia Timur kini bersiap menghadapi normal baru yang jauh lebih menegangkan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com