
NARASITODAY.COM, OKAYAMA – Malam di Kuil Saidaiji Kannon-in biasanya hening, namun tidak pada akhir pekan ini. Di tengah udara musim dingin yang menusuk tulang, aroma dupa bercampur dengan uap panas yang membubung dari ribuan tubuh pria yang nyaris telanjang. Namun, keriuhan ritual kuno ini berubah menjadi kepanikan saat enam orang dilaporkan terluka akibat berdesak-desakan dalam kepadatan massa yang ekstrem.
Badan Manajemen Darurat Jepang mengonfirmasi pada Senin (23/2/2026) bahwa insiden tersebut terjadi saat lebih dari 10.000 peserta merangsek masuk ke area utama kuil secara bersamaan.
Kondisi Kritis di Tengah Ritual
Ketegangan memuncak sesaat sebelum tengah malam. Ketika lampu kuil dipadamkan sebagai tanda dimulainya perebutan benda suci, massa yang hanya mengenakan mawashi (cawat) saling dorong dalam kegelapan. Akibatnya, beberapa peserta terjepit dan kehilangan kesadaran.
“Tiga dari korban luka berada dalam kondisi serius dan jatuh pingsan sekitar pukul 22.00 malam,” tulis pernyataan resmi Badan Manajemen Darurat Jepang dalam laporannya yang dikutip Bangkok Post.
Para korban segera dievakuasi oleh tim medis yang bersiaga di lokasi, sementara ribuan lainnya tetap melanjutkan ritual perebutan Shingi, sepasang tongkat kayu suci yang dipercaya membawa keberuntungan setahun penuh bagi siapa pun yang berhasil menangkapnya.
Tradisi 500 Tahun yang Berisiko
Hadaka Matsuri, atau Saidaiji Eyo, adalah warisan budaya berusia lima abad. Sebelum berebut tongkat, para peserta diwajibkan menyucikan diri dengan mandi air sedingin es sebagai bentuk pembersihan spiritual. Ritual mencapai klimaksnya ketika pendeta melemparkan tongkat dari lantai dua kuil ke arah kerumunan yang berada dalam kegelapan total.
“Saat lampu dipadamkan, tongkat-tongkat wangi dilemparkan ke arah kerumunan, memicu perebutan yang kacau saat ribuan orang berusaha menemukannya dan aroma yang meresap pada tongkat tersebut dapat membantu para peserta menemukannya di tengah kegelapan,” tulis laporan mengenai prosesi tersebut.
Namun, ruang terbatas di dalam kuil membuat benturan fisik menjadi tak terelakkan. Aroma kayu cendana dari tongkat suci tersebut sering kali menjadi satu-satunya panduan bagi para peserta yang terjebak dalam lautan manusia.
Bayang-bayang Tragedi Masa Lalu
Insiden tahun ini kembali membuka luka lama bagi warga Okayama. Pada tahun 2007, festival yang sama sempat menelan korban jiwa setelah seorang peserta tewas terinjak-injak dalam kekacauan serupa.
Meskipun festival ini merupakan daya tarik wisata dan budaya yang penting bagi Jepang, jatuhnya korban luka terbaru ini memicu diskusi serius mengenai batas antara pelestarian tradisi dan keselamatan publik.
Otoritas setempat kini didesak untuk mengevaluasi sistem pengendalian massa guna memastikan perayaan “pria beruntung” ini tidak kembali memakan korban di masa mendatang.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













