Bom Perang Dunia II Diduga Meledak di Biak Papua, 5 Tewas dan Belasan Rumah Hancur

0
Papua
Kondisi permukiman warga di Kompleks Perikanan Fandoi, Biak Kota, Papua, setelah ledakan dahsyat yang diduga berasal dari amunisi Perang Dunia II, Minggu (31/5/2026). Ledakan menewaskan lima warga dan menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah rumah.Foto : Ist

NARASITODAY.COM, BIAK – Hari Minggu yang tenang di pesisir Papua berubah menjadi mencekam dalam sekejap mata. Sebuah ledakan dahsyat berskala besar mengguncang Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, pada Minggu (31/5/2024) pukul 14.45 WIT.

Dentuman keras yang diduga kuat berasal dari amunisi aktif peninggalan Perang Dunia II tersebut mengubah pemukiman nelayan yang damai menjadi puing-puing berselimut duka.

Peristiwa mematikan di wilayah timur Indonesia ini langsung memicu sorotan tajam dari berbagai media internasional. Salah satu media terkemuka asal Prancis, Agence France-Presse (AFP), merilis pemberitaan global dengan judul utama “Suspected World War II ordnance explodes in Indonesia, five dead”.

Dalam laporannya, AFP menyoroti bagaimana sebuah benda yang diduga sisa-sisa peluru dari Perang Dunia II meledak di bawah sebuah rumah panggung di desa nelayan tersebut. Insiden tragis ini dilaporkan telah menewaskan lima orang warga dan melukai hampir 20 orang lainnya.

Baca Juga :  Pj. Ketua TP PKK Kabupaten Bogor Evaluasi Implementasi 10 Program Pokok di Ciriung

“Ledakan di wilayah Papua timur Indonesia yang rawan konflik itu mengejutkan warga setempat dengan suara dentuman keras pada Minggu sore, mengeluarkan bola api yang diikuti oleh kolom asap tebal. Sembilan rumah hancur,” muat laman AFP, dikutip Senin (1/6/2026).

Pihak berwenang setempat segera melakukan investigasi mendalam terkait asal-usul sumber ledakan berskala destruktif ini. “Sumber ledakan tersebut diduga kuat berasal dari bom atau mortir peninggalan Perang Dunia II,” tambah AFP, mengutip pernyataan resmi dari juru bicara kepolisian Papua, Cahyo Sukarnito.

Kerusakan Parah dan Korban Hilang

Berdasarkan data terbaru dari lapangan, selain lima korban jiwa, setidaknya 19 warga harus dilarikan ke fasilitas medis terdekat karena menderita cedera ringan hingga berat. Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat melaporkan bahwa tiga orang warga masih tercatat hilang dan dalam proses pencarian intensif.

Baca Juga :  China Resmi Kritik Tindakan AS Menyita Kapal Iran, Desak Kembali ke Dialog Damai

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melalui akun Instagram resmi @sar_nasional bersama Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Biak mengonfirmasi bahwa titik nol ledakan berasal dari area bawah rumah panggung milik seorang warga bernama Yulianus Raubaba. Ledakan yang terjadi secara tiba-tiba itu langsung meruntuhkan bangunan-bangunan kayu di sekitarnya.

“Warga yang berada di lokasi menyampaikan bahwa ledakan terdengar sangat keras dan getarannya terasa hingga beberapa kilometer dari titik kejadian. Material bangunan dan benda keras terlontar ke udara akibat kuatnya ledakan tersebut,” tulis keterangan resmi yang diunggah oleh Basarnas.

Sesaat setelah dentuman menggema, warga yang selamat langsung berhamburan dan bergotong-royong memberikan pertolongan pertama kepada para korban yang tertimbun reruntuhan, sebelum akhirnya aparat keamanan dan tim evakuasi tiba untuk mensterilisasi area konflik tersebut.

Jejak Sejarah yang Mematikan

Baca Juga :  Bom Guncang Selatan Thailand, 11 SPBU Hangus dalam Serangan Terkoordinasi

Media asing AFP turut mengaitkan insiden tragis di Papua ini dengan memori kelam ledakan amunisi di Jawa Barat pada tahun lalu, yang menewaskan 13 orang saat pasukan militer Indonesia mencoba membuang amunisi tidak terpakai di sebuah lubang pembuangan.

Faktanya, tanah Nusantara memang menyimpan banyak “bom waktu” sejarah yang terkubur di dalam tanah.

“Indonesia merupakan zona pertempuran utama selama Perang Dunia II ketika pasukan Jepang menduduki wilayah yang saat itu dikenal sebagai Hindia Belanda, dan pasukan Sekutu berjuang untuk merebut kembali kendali,” tulis AFP mengakhiri laporannya.

Kini, puluhan tahun setelah meriam Perang Dunia II berhenti menyalak, sisa-sisa kehancurannya justru kembali bangkit dan merenggut nyawa di Biak. Peristiwa ini menjadi alarm berdarah bahwa warisan perang masa lalu masih menjadi ancaman nyata yang mengintai keselamatan warga di bawah tanah mereka sendiri.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com