NARASITODAY.COM, PARIS – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memasuki pekan kedua dengan dampak yang semakin mengkhawatirkan. Prancis memperingatkan jumlah korban jiwa diperkirakan masih akan bertambah setelah mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih (excess deaths) yang diduga berkaitan dengan suhu udara yang memecahkan rekor.
Meski sebagian wilayah mulai merasakan penurunan suhu, cuaca ekstrem masih membayangi sejumlah negara Eropa. Pada Minggu (28/6/2026), suhu di beberapa kawasan Jerman, Polandia, dan Italia diperkirakan tetap mendekati bahkan melampaui 40 derajat Celsius, sementara badai mulai menerjang wilayah lain dan memicu gangguan infrastruktur.
Badan kesehatan masyarakat Prancis menyebut sebagian besar korban meninggal berasal dari kelompok lanjut usia. Otoritas setempat memperkirakan angka tersebut masih berpotensi meningkat seiring masuknya laporan kematian dari panti jompo maupun rumah-rumah warga.
Para ilmuwan menilai gelombang panas yang berlangsung sejak 20 Juni ini menjadi salah satu yang paling parah dalam sejarah pencatatan cuaca di Eropa. Selain memicu krisis kesehatan, suhu ekstrem juga mengganggu operasional pembangkit listrik, merusak infrastruktur, hingga membebani sistem layanan kesehatan di berbagai negara.
Menurut para peneliti, peristiwa cuaca ekstrem kali ini hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Mereka menyebut perubahan iklim telah membuat fenomena suhu malam yang sangat tinggi menjadi sekitar 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dua dekade lalu.
Di sejumlah negara, aktivitas masyarakat ikut terdampak. Jalur kereta api utama di negara bagian North Rhine-Westphalia, Jerman, mengurangi layanan akibat kondisi cuaca, sementara operasional trem di Kota Leipzig dihentikan sementara. Banyak warga memilih bertahan di dalam rumah hingga matahari terbenam untuk menghindari paparan suhu yang menyengat.
Dampak gelombang panas juga dirasakan di sungai-sungai utama Eropa. Menurunnya debit air dan meningkatnya suhu sungai mengganggu sektor energi dan pertanian.
Pemerintah Hungaria menyatakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Paks kemungkinan kembali mengurangi kapasitas produksinya karena suhu Sungai Danube yang digunakan sebagai sistem pendingin mengalami peningkatan.
Sementara itu di Italia, debit Sungai Po terus menyusut sehingga air laut merembes hingga sekitar 18 kilometer ke daratan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap sektor pertanian sekaligus mengancam ekosistem lahan basah yang dilindungi di kawasan delta sungai.
Cuaca panas yang berkepanjangan juga meningkatkan risiko kecelakaan di perairan. Puluhan orang dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam saat berusaha mencari kesegaran di danau maupun perairan terbuka.
Di Italia, tim penyelamat hingga Minggu masih melakukan pencarian terhadap suami Menteri Kabinet Eugenia Roccella yang dilaporkan hilang saat berenang di Danau Vico, sekitar 70 kilometer dari Roma, pada Sabtu (27/6/2026).
Meski suhu mulai menurun di sebagian besar wilayah Prancis, badan meteorologi setempat masih menetapkan status peringatan gelombang panas di beberapa daerah bagian timur laut.
Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengingatkan bahwa dampak kesehatan akibat suhu ekstrem tidak akan langsung berakhir meskipun cuaca mulai membaik.
“Episode ini belum berakhir,” ujarnya.
Menurut Rist, dampak gelombang panas terhadap kesehatan masyarakat masih dapat berlangsung hingga 10 hari setelah suhu mulai turun.
Di sisi lain, badai yang menerjang sejumlah wilayah Prancis pada Sabtu malam memang membawa udara yang lebih sejuk. Namun, hujan lebat dan angin kencang turut menyebabkan gangguan pasokan listrik.
Perusahaan penyedia listrik Enedis melaporkan sekitar 63.000 rumah tangga di wilayah utara dan tengah Prancis masih mengalami pemadaman listrik hingga Minggu pagi.
Gelombang panas yang berkepanjangan ini kembali menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak lagi sekadar ancaman jangka panjang. Bagi jutaan warga Eropa, suhu yang memecahkan rekor kini telah menjadi kenyataan yang memengaruhi kesehatan, aktivitas sehari-hari, hingga ketahanan infrastruktur di berbagai negara.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














