
NARASITODAY.COM, GUANGXI – Di balik jeruji besi yang dingin, sejumlah singa, beruang, dan serigala hanya bisa pasrah saat air bah perlahan menenggelamkan tubuh mereka.
Pemandangan memilukan ini terjadi di sebuah kebun binatang di kota Guigang, wilayah barat daya Guangxi, Tiongkok, ketika banjir mematikan akibat hantaman Topan Maysak melanda wilayah tersebut awal pekan ini.
Demi mencegah satwa predator melarikan diri ke permukiman warga saat banjir menerjang kota, pihak pengelola kebun binatang mengambil keputusan ekstrem dengan mengunci rapat kandang-kandang hewan berbahaya tersebut. Namun, keputusan ini berujung petaka.
Melansir laporan Red Star News, Jumat (10/07/2026), air banjir yang melonjak hingga ketinggian lebih dari 2 meter (6,6 kaki) menenggelamkan tiga ekor singa hingga tewas. Sementara itu, beruang cokelat dan serigala yang terkurung dilaporkan dalam kondisi kritis setelah nyaris kehabisan napas di dalam air.
Pemilik Kebun Binatang Guigang berdalih bahwa langkah tersebut terpaksa diambil demi keselamatan publik yang tengah menghadapi situasi darurat bencana.
“Kami tidak ingin menambah masalah bagi negara ketika banjir datang dan membiarkan hewan-hewan berbahaya lepas dan melukai orang,” ujar pemilik Kebun Binatang Guigang seperti dikutip dari Red Star News.
Ratusan Satwa Hanyut, PETA Layangkan Protes Keras
Tragedi tidak berhenti di dalam kandang besi. Melalui pengumuman di media sosial, pihak kebun binatang menyatakan lebih dari 100 hewan lainnya hanyut terbawa arus banjir yang deras.
Deretan satwa yang hilang tersebut meliputi sepasang zebra, tiga kuda poni mini, burung unta, alpaka, rakun, hingga burung merak. Pihak pengelola kini tengah meminta bantuan masyarakat untuk menemukan satwa liar yang tersapu air.
Global Times melaporkan, setidaknya satu dari zebra yang hilang telah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Kondisi mengenaskan ini memantik kecaman keras dari kelompok hak asasi hewan internasional, PETA. Mereka menilai tindakan mengurung hewan hidup-hidup di tengah naiknya permukaan air sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan.
“Tragedi yang terjadi di Guangxi, Tiongkok, seharusnya menjadi peringatan bagi setiap kebun binatang dan fasilitas penangkaran satwa liar yang berada di jalur cuaca ekstrem,” tegas Jason Baker, Presiden PETA Asia, dalam sebuah pernyataan resmi.
Baker menambahkan bahwa sangat “tidak dapat diterima” untuk membiarkan hewan terperangkap di balik jeruji besi saat air banjir naik. Namun, di sisi lain, ia juga sependapat bahwa melepaskan satwa predator tanpa kendali bukanlah solusi yang bijak.
“Melepaskan begitu saja hewan liar yang ditangkarkan selama bencana adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya bagi hewan dan manusia,” tambah Baker yang mendesak pentingnya rencana evakuasi matang serta penghentian praktik pemeliharaan hewan liar di kebun binatang.
Teror Ular dan Ancaman Topan Susulan
Hingga berita ini diturunkan, kantor berita Reuters belum dapat menghubungi operator Kebun Binatang Guigang untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Kengerian akibat banjir akibat Topan Maysak ini juga menjalar ke kota tetangga, Hengzhou. Di sana, banjir bandang meratakan sebuah peternakan ular, menyebabkan ratusan kobra, ular tikus raja, dan ular air lepas dan berenang bebas di air banjir yang menggenangi permukiman. Beijing News melaporkan seorang wanita di Hengzhou tewas mengenaskan setelah digigit oleh salah satu ular yang lepas tersebut.
Secara keseluruhan, Topan Maysak telah merenggut sedikitnya 39 korban jiwa di wilayah Tiongkok selatan sepanjang pekan ini, menghancurkan waduk, serta merendam seluruh kota.
Kini, masyarakat dan otoritas setempat harus berpacu dengan waktu dalam kondisi porak-poranda, karena badai yang lebih besar, Topan Bavi, diprediksi akan menerjang daratan Tiongkok tenggara pada Sabtu ini.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id













