Ekonomi Jadi Tumit Achilles Trump dalam Konflik Tujuh Minggu Lawan Iran

0
Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto : aa.com.tr

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C.Setelah tujuh minggu dentuman meriam dan serangan udara menghiasi langit Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menghadapi musuh yang jauh lebih menakutkan daripada rudal Teheran yaitu lonjakan harga bensin dan inflasi di dalam negeri.

Konflik bersenjata yang dimulai sejak akhir Februari 2026 antara AS-Israel melawan Iran kini memasuki babak baru. Meski secara militer AS sangat agresif, tekanan ekonomi domestik justru menjadi faktor utama yang membelenggu langkah sang presiden. Di tengah merosotnya tingkat persetujuan publik, Trump kini terpaksa melirik jalur diplomasi sebagai “pintu darurat.”

Pukulan Telak dari Selat Hormuz

Iran memang tertekan secara militer, namun Teheran berhasil membalas dengan taktik yang melumpuhkan ekonomi global. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz memicu guncangan energi terburuk tahun ini, yang langsung mengerek harga minyak dunia ke level tertinggi.

Baca Juga :  Rayakan Prestasi dan Dedikasi, Reza Gladys dan Attaubah Mufid Membuat Penghargaan untuk Para Disabilitas

Bagi Trump, yang kembali ke kursi kepresidenan dengan janji harga energi murah, kondisi ini adalah ironi pahit. Para petani di pedalaman AS mulai mengeluhkan mahalnya harga pupuk, sementara sektor transportasi terjepit biaya bahan bakar yang kian mencekik.

Trump merasakan tekanan ekonomi, yang merupakan titik lemahnya dalam perang pilihan ini,” ujar Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri era Obama yang kini memimpin Global Situation Room, dikutip dari Reuters, Sabtu (18/4/2026).

Dilema Politik Menjelang Pemilu

Kebutuhan untuk mengakhiri konflik menjadi semakin mendesak mengingat AS akan menghadapi pemilu paruh waktu pada November mendatang. Partai Republik kini tengah berjuang keras mempertahankan mayoritas tipis di Kongres.

Meski ditekan pasar, Gedung Putih mencoba tetap terlihat tegar. Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan bahwa pemerintah tetap fokus pada agenda keterjangkauan harga sembari bernegosiasi dengan Iran.

Baca Juga :  Desa Nanggung Jadi Lokasi Pembangunan Koperasi Merah Putih, Satu dari Tujuh di Kabupaten Bogor

“Presiden Trump dapat melakukan dua hal sekaligus,” tegas Desai.

Namun, pengamat melihat adanya pergeseran pola. Sejak 8 April, Trump mulai melunakkan retorikanya dari ancaman serangan udara ke meja perundingan. Sinyalemen kesepakatan pun mulai menguat setelah Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam kerangka gencatan senjata sementara yang dimediasi Washington.

Salah Hitung dan Keraguan Sekutu

Para analis menilai Trump kembali melakukan kesalahan kalkulasi yang sama seperti saat perang dagang dengan China. Ia dinilai meremehkan kemampuan lawan untuk melakukan serangan balik ekonomi yang bersifat asimetris. Alih-alih perang singkat, konflik ini justru meluas dan berdampak pada rantai pasokan global.

Ketidakpastian ini memicu kegelisahan di kalangan sekutu. Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa mulai mempertanyakan konsistensi kebijakan Washington yang dianggap tidak terprediksi.

Baca Juga :  5 Pujian dan Penguatan Positif Tingkatkan Kepercayaan Diri Anak Laki-Laki dalam Mengelola Emosi

“Lonceng peringatan yang berbunyi bagi sekutu saat ini adalah bagaimana perang telah menyoroti bahwa pemerintahan dapat bertindak secara tidak menentu, tanpa banyak mempertimbangkan konsekuensinya,” kata Gregory Poling, ahli Asia di Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Menanti Akhir Krisis

Kini, dunia menunggu apakah gencatan senjata dua minggu yang sedang berjalan akan berlanjut menjadi kesepakatan permanen atau sekadar jeda sebelum serangan berikutnya. Satu hal yang pasti, dampak ekonomi dari “perang pilihan” ini diprediksi akan menghantui pasar keuangan dunia hingga berbulan-bulan ke depan.

Bagi pemilih independen di AS, stabilitas harga bensin di SPBU mungkin akan jauh lebih menentukan pilihan mereka di kotak suara nanti daripada kemenangan militer di tanah Persia.

“Dia (Trump) sadar bahwa pada akhirnya, harga politiknya akan dibayar,” pungkas analis politik Chuck Coughlin.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com