Mantan Awak Kabin Kanada Diduga Menyamar Jadi Pilot, Nikmati Ratusan Penerbangan Gratis

0
pesawat
Ilustrasi Pesawat terbang di langit.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, HONOLULU – Selama empat tahun, Dallas Pokornik (33) tampaknya menjalani hidup layaknya tokoh Frank Abagnale dalam film legendaris Catch Me If You Can. Warga Toronto, Kanada ini diduga berhasil mengecoh sistem keamanan tiga maskapai besar Amerika Serikat (AS) untuk mendapatkan ratusan penerbangan gratis dengan cara yang sangat berani yaitu ia melakukan penyamaran sebagai pilot komersial.

Namun, petualangan “pilot gadungan” ini resmi berakhir di ruang sidang. Pada Selasa (20/1/2026), Pokornik menjalani sidang perdana di pengadilan federal Hawaii setelah diekstradisi dari Panama. Di hadapan hakim, ia menyatakan tidak bersalah atas dakwaan penipuan melalui transfer elektronik (wire fraud) yang menjeratnya sejak Oktober 2025.

Baca Juga :  Foto Gratis, Kuis Seru, Hadiah Menarik, Cara Asyik Kenalkan Inspektorat kepada Masyarakat

Identitas Palsu dan Kursi Kokpit

Berdasarkan dokumen pengadilan, Pokornik sejatinya bukan orang asing di dunia penerbangan. Ia pernah bekerja sebagai awak kabin (pramugara) untuk sebuah maskapai yang berbasis di Toronto pada periode 2017 hingga 2019. Berbekal pengetahuan tentang “celah” internal industri, ia diduga menciptakan identitas karyawan palsu untuk memesan tiket pilot dan pramugara secara cuma-cuma.

Aksi Pokornik tergolong nekat. Jaksa AS mengungkapkan bahwa ia tidak hanya duduk di bangku penumpang, tetapi sering kali meminta akses ke jump seat kursi tambahan di dalam kokpit yang biasanya hanya disediakan untuk pilot resmi yang sedang tidak bertugas (deadheading).

Baca Juga :  Presiden Prabowo Subianto Melanjutkan Lawatan ke Prancis dan Bahas Kerja Sama Strategis dengan Presiden Macron

“Skema ini tidak hanya menipu maskapai, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan penerbangan,” tegas Jaksa AS dalam keterangannya yang dikutip Associated Press, Minggu (19/4/2026).

Kerugian Hingga Ratusan Juta

Mengingat rata-rata harga tiket domestik di Amerika Serikat berkisar di angka US$ 300 atau sekitar Rp4,7 juta per penerbangan, total keuntungan ilegal yang dinikmati Pokornik selama empat tahun diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Meskipun dokumen pengadilan tidak menyebutkan nama maskapai secara spesifik, rujukan lokasi kantor pusat maskapai tersebut mengarah kuat pada tiga raksasa dirgantara:

  • Honolulu: Diduga Hawaiian Airlines.
  • Chicago: Diduga United Airlines.
  • Fort Worth, Texas: Diduga American Airlines.

Hingga saat ini, ketiga maskapai tersebut beserta Air Canada mantan pemberi kerja Pokornik masih memilih untuk bungkam dan belum memberikan komentar resmi terkait bobolnya sistem verifikasi mereka.

Baca Juga :  Raffi Ahmad Apresiasi Inisiatif Shin Tae Yong dalam Mengembangkan Talenta Sepakbola Muda

Penahanan Tanpa Jaminan

Hakim magistrat AS memerintahkan agar Pokornik tetap berada dalam tahanan selama proses hukum berlangsung karena dianggap berisiko melarikan diri. Sementara itu, tim pembelanya menolak untuk memberikan pernyataan kepada media usai persidangan.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi protokol keamanan penerbangan di Amerika Serikat. Publik kini mempertanyakan bagaimana seorang mantan pramugara bisa begitu mudah meyakinkan kru darat dan pilot senior di kokpit untuk memberinya tumpangan gratis selama bertahun-tahun tanpa terdeteksi.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com