Wayang di Era Modern: Guru Besar ISI Bahas Adaptasi dan Inovasi Seni Pewayangan

0
Ilustrasi Wayang di Era Modern

NARASITODAY.COM Dalam sebuah dialog budaya yang berlangsung di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta, Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Soetarno mengungkapkan perubahan signifikan yang terjadi dalam dunia wayang di era modern.

Dalam presentasinya, Soetarno menekankan bahwa seni pewayangan, yang merupakan warisan budaya Indonesia yang kaya, kini menghadapi tantangan besar akibat perkembangan zaman dan perubahan selera masyarakat. Menurutnya, terdapat tiga perubahan utama yang sangat mencolok dalam dunia wayang saat ini.

Pertama, ia mencatat adanya diskontinuitas epistemologis filosofis, di mana pertunjukan wayang yang dulunya sarat dengan nilai-nilai spiritual dan sakral kini lebih mengarah pada hiburan semata.

“Dulu, wayang bukan hanya sekadar tontonan ia adalah media untuk menyampaikan ajaran moral dan filosofi kehidupan. Namun sekarang, banyak pertunjukan yang lebih fokus pada aspek hiburan tanpa memperhatikan nilai-nilai tersebut” jelas Soetarno kepada para peserta dialog.

Baca Juga :  Renyah dan Sehat! Resep Mudah Pastel Isi Sayuran untuk Camilan Sore

Kedua, ada diskontinuitas estetika, di mana pertunjukan wayang saat ini lebih mengutamakan kepentingan penonton ketimbang standar estetika yang diajarkan oleh para ahli wayang.

“Pertunjukan wayang kini sering kali disajikan dengan cara yang lebih menarik perhatian penonton, tetapi terkadang mengabaikan nilai-nilai estetika yang mendalam. Kita melihat penggunaan efek visual modern dan elemen-elemen pop culture yang mungkin tidak sejalan dengan esensi asli dari seni pewayangan” tambahnya.

Ketiga, ia menyebutkan diskontinuitas sosial-ekonomi, di mana unsur glamor dan hiburan instan semakin menguat dalam pertunjukan wayang, sehingga mengurangi nilai-nilai luhur yang sebelumnya menjadi inti dari seni ini.

“Masyarakat kini lebih tertarik pada pertunjukan yang cepat dan menghibur, sementara nilai-nilai luhur dari cerita-cerita wayang sering kali terpinggirkan. Ini adalah tantangan bagi kita semua untuk menemukan cara agar wayang tetap menarik tanpa kehilangan identitasnya” ungkap Soetarno.

Baca Juga :  Sekda Ajat Dampingi Wamendagri Kunjungi Daerah Irigasi Sasak Ciseeng

Dalam kesempatan tersebut, Soetarno juga mengapresiasi dalang-dalang seperti Naso Sabdo yang berhasil mempertahankan nilai-nilai luhur dalam pertunjukannya. Ia mencontohkan kisah Adipati Karna dalam “Mahabharata” sebagai contoh dilema moral yang relevan, menunjukkan keteguhan moral berdasarkan kewajiban daripada perasaan pribadi.

“Karakter-karakter dalam wayang sering kali menghadapi konflik moral yang kompleks. Kita perlu mengingat bahwa ajaran moral seperti ini sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat” tegasnya.

Dalam wawancara setelah dialog, Soetarno menjelaskan lebih lanjut tentang harapannya untuk masa depan seni pewayangan. “Saya percaya bahwa kita harus terus melakukan inovasi dalam cara kita menyajikan wayang, tetapi tetap menghormati tradisi dan nilai-nilai aslinya. Ini bukan hanya tanggung jawab para seniman, tetapi juga masyarakat luas untuk menjaga agar seni ini tetap hidup” katanya dengan penuh semangat.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Sukses Laksanakan 546 GMP, Capai 2.300 Ton Distribusi Pangan Dan Jangkau Hingga 1,6 Juta Warga

Soetarno juga menyoroti pentingnya pendidikan seni bagi generasi muda sebagai langkah awal untuk melestarikan wayang. “Kita perlu memasukkan pendidikan tentang seni tradisional seperti wayang ke dalam kurikulum sekolah agar anak-anak kita memahami dan menghargai warisan budaya kita sejak dini” tambahnya.

Dengan adanya perubahan-perubahan ini, Soetarno menekankan bahwa adaptasi dan inovasi sangat diperlukan untuk memastikan bahwa seni pewayangan tetap relevan di tengah arus modernisasi. “Wayang harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya” tutupnya.

Dialog ini menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan seni tradisional sambil tetap membuka diri terhadap inovasi dan perubahan yang diperlukan untuk menarik minat generasi muda.***