Serangan Udara Israel Kembali Memanas: 634 Warga Palestina Tewas Termasuk Pemimpin Hamas

0
Serangan Udara Israel Kembali Memanas: 634 Warga Palestina Tewas Termasuk Pemimpin Hamas

NARASITODAY.COM – Serangan udara Israel terhadap Jalur Gaza kembali memanas setelah gencatan senjata yang bertahan sejak Januari 2024 tiba-tiba dihentikan pada hari Selasa lalu.

Dalam eskalasi terbaru, setidaknya 634 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk Salah al-Bardawil, salah satu anggota senior Biro Politik Hamas. Al-Bardawil tewas bersama istrinya ketika mereka tengah melaksanakan salat di tenda pengungsian mereka di Khan Younis pada Minggu (23/3/2025).

Hamas menuduh Israel sengaja membunuh pemimpin mereka dan menyatakan, “Darahnya, darah istrinya, dan para syuhada lainnya akan terus menjadi bahan bakar dalam pertempuran kami untuk kebebasan dan kemerdekaan. Musuh kriminal ini tidak akan mampu menghancurkan tekad dan perjuangan kami,” seperti yang dikutip dari Al Jazeera.

Sampai saat ini, Israel belum memberikan komentar mengenai kematian Al-Bardawil, namun beberapa pemimpin senior Hamas lainnya juga dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Israel sejak kembali memulai operasi militernya pekan lalu.

Baca Juga :  Islamabad Jadi Tuan Rumah Negosiasi Gencatan Senjata AS–Iran

Dalam serangan udara pada Minggu, sedikitnya 23 orang dikabarkan tewas, dan militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga yang tinggal di Tal as-Sultan, Rafah.

  • Blokade dan Serangan Darat Israel

Sebelum melanjutkan serangan besar-besaran pada pekan lalu, Israel sudah memberlakukan blokade total terhadap masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza serta memutus pasokan listrik sejak 1 Maret 2025.

Pada Rabu, Israel melancarkan serangan darat dengan mengirim pasukannya ke daerah-daerah yang sebelumnya mereka tinggalkan selama hampir dua bulan masa gencatan senjata.

Pasukan Israel juga disebut telah beberapa kali melanggar gencatan senjata sejak kesepakatan yang dimulai pada 19 Januari 2024.

Konflik ini dimulai pada 7 Oktober 2023, saat Hamas menyerang wilayah Israel Selatan, yang menyebabkan hampir 50.000 orang Palestina tewas, serta menewaskan 1.139 orang Israel dan menculik sekitar 250 warga Israel, sebagian besar telah dibebaskan melalui negosiasi.

Baca Juga :  Ketua DPRD Kabupaten Bogor Dukung Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Di Kejuaraan Pangdam III/Siliwangi

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan ini bertujuan untuk memaksa Hamas menyerahkan sisa sandera yang masih ditahan. Namun, Hamas menuduh Israel mengorbankan para sandera dengan terus melanjutkan serangan militer dan mengingkari perjanjian gencatan senjata.

Pada Jumat (21/3/2025), Hamas mengungkapkan bahwa mereka tengah mempertimbangkan proposal mediasi dari Amerika Serikat untuk memulihkan gencatan senjata, yang diperkirakan bisa bertahan hingga setelah Ramadan dan perayaan Paskah Yahudi, sebagai bagian dari upaya untuk menghentikan perang.

Israel juga memperluas serangannya ke wilayah Lebanon, setelah mengklaim adanya serangan roket dari perbatasan Lebanon pada Sabtu lalu. Serangan ini berpotensi merusak gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah yang telah berlaku sejak November 2023.

Baca Juga :  Lima Personel NewJeans Resmi Kembali ke ADOR, Grup Siap Aktif Lagi Hingga 2029

Militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah menyerang wilayah Tyre dan Touline, dengan target yang mereka sebut sebagai “posisi Hizbullah.” Israel mengklaim bahwa enam roket ditembakkan dari Lebanon ke wilayah utara Israel, dengan tiga di antaranya berhasil dicegat.

Namun, Hizbullah membantah keterlibatannya dalam serangan tersebut, menyebut bahwa Israel hanya mencari alasan untuk melanjutkan agresi terhadap Lebanon. “Ini hanyalah dalih bagi Israel untuk terus menyerang Lebanon. Kami berdiri bersama negara Lebanon dalam menghadapi eskalasi Zionis yang berbahaya ini,” kata Hizbullah dalam pernyataannya.

Sejak serangan Israel terhadap Lebanon dimulai pada Sabtu, sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas, dan 40 lainnya terluka akibat serangan tersebut.***