Potensi Kehilangan Ekonomi Jepang Akibat Gempa Besar: Dampak yang Menghancurkan

0
Potensi Kehilangan Ekonomi Jepang Akibat Gempa Besar: Dampak yang Menghancurkan

NARASITODAY.COM – Jepang, negara yang terkenal dengan kemajuan teknologinya, kini dihadapkan pada ancaman yang mengkhawatirkan terkait potensi gempa besar yang dapat menghancurkan sebagian besar wilayahnya.

Sebuah laporan yang dirilis oleh kantor kabinet pada Senin (31/3/2025) memperkirakan bahwa negara ini bisa kehilangan nilai ekonomi sebesar US$1,81 triliun, atau sekitar Rp30 kuadriliun, jika gempa yang telah lama diantisipasi terjadi di lepas pantai Pasifik. Gempa tersebut berpotensi memicu tsunami dahsyat, menghancurkan ratusan bangunan, dan menyebabkan korban jiwa hingga 300.000 orang.

Menurut laporan terbaru, kerusakan ekonomi yang diperkirakan akan mencapai 270,3 triliun yen, atau hampir separuh dari total produk domestik bruto (PDB) Jepang, jauh lebih besar dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang hanya sebesar 214,2 triliun yen.

Kenaikan ini disebabkan oleh perhitungan tekanan inflasi yang lebih tinggi dan data terkini tentang medan dan kondisi darat yang telah memperluas area banjir yang diperkirakan.

Baca Juga :  Presiden Bolivia Rodrigo Paz Ambil Langkah Drastis di Tengah Gelombang Protes dan Krisis Ekonomi

Jepang, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan gempa bumi tertinggi di dunia, menghadapi ancaman besar dari potensi gempa yang terjadi di zona Palung Nankai, sebuah wilayah dasar laut yang terletak di lepas pantai Pasifik barat daya Jepang.

Diperkirakan, sekitar 80 persen kemungkinan gempa berkekuatan 8 hingga 9 skala Richter dapat terjadi di sepanjang zona ini, yang menjadi sumber ancaman utama bagi negara tersebut.

Skenario Terburuk: Ribuan Orang Tewas dan Mengungsi

Jika gempa besar berkekuatan 9 skala Richter terjadi, Jepang akan menghadapi skenario terburuk, dengan perkiraan lebih dari 1,23 juta orang mengungsi atau sekitar 1 persen dari total populasi negara tersebut.

Baca Juga :  Pemuda Disabilitas di Cianjur Bertahan Hidup Bersama Kakek-Nenek di Rumah Bilik Nyaris Roboh

Laporan itu juga memperkirakan bahwa sekitar 298.000 orang bisa meninggal dunia akibat tsunami dahsyat dan runtuhnya bangunan, terutama jika gempa terjadi larut malam di musim dingin, yang akan memperburuk kondisi evakuasi dan respons darurat.

Palung Nankai sendiri membentang sejauh sekitar 900 km di bawah laut, di tempat Lempeng Laut Filipina bertabrakan dengan Lempeng Eurasia. Akumulasi tekanan tektonik di wilayah ini dapat mengakibatkan gempa besar yang terjadi kira-kira sekali dalam 100 hingga 150 tahun. Dengan siklus ini, Jepang sudah lama mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, namun potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan tetap sangat besar.

Peringatan Gempa Besar: Meningkatnya Potensi Bencana

Tahun lalu, Jepang mengeluarkan peringatan pertama terkait kemungkinan terjadinya gempa besar di wilayah ini, menyebutkan adanya “peluang relatif lebih tinggi” terjadinya gempa berkekuatan 9 skala Richter di Palung Nankai, setelah gempa berkekuatan 7,1 skala Richter mengguncang tepi palung tersebut.

Baca Juga :  Pemadaman Internet di Iran Masuki Hari ke-24, Tercatat Salah Satu yang Terparah

Peringatan ini semakin mengkhawatirkan, mengingat dampak gempa berkekuatan 9 skala Richter yang pernah terjadi pada tahun 2011. Saat itu, gempa dahsyat tersebut memicu tsunami yang menghancurkan wilayah timur laut Jepang, merusak tiga reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir, dan menewaskan lebih dari 15.000 orang.

Ancaman gempa besar di Palung Nankai ini kembali memicu diskusi serius mengenai kesiapan Jepang menghadapi bencana alam yang dapat mempengaruhi ekonomi, infrastruktur, dan kehidupan warganya.

Pemerintah Jepang kini menghadapi tantangan besar dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi potensi gempa besar ini dan mengurangi dampak yang ditimbulkan, baik dari segi korban jiwa maupun kerugian ekonomi.***