NARASITODAY.COM – Momentum libur panjang Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah, yang seharusnya menjadi angin segar bagi industri pariwisata, justru berhembus dingin bagi para pelaku usaha perhotelan di Kabupaten Bogor.
Alih-alih meraup keuntungan, mereka justru harus menghadapi kenyataan pahit berupa penurunan tingkat hunian kamar yang cukup signifikan dibandingkan perayaan Lebaran tahun sebelumnya.
Data yang dihimpun dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor menjadi saksi bisu fenomena ini. Selama periode libur yang seharusnya menjadi puncak kunjungan wisatawan, tingkat okupansi hotel di wilayah berhawa sejuk ini justru mencatatkan penurunan yang mengkhawatirkan.
Sekretaris PHRI Kabupaten Bogor, Boboy Ruswanto, dengan nada prihatin mengungkapkan angka pasti dari kemerosotan ini. “Dibandingkan tahun lalu, terjadi penurunan sekitar 10 hingga 20 persen. Okupansi hotel selama libur Lebaran ini rata-rata hanya sekitar 65 hingga 70 persen,” ujarnya saat dihubungi pada Rabu (9/4/2025).
Angka ini jelas menunjukkan adanya penurunan minat masyarakat untuk menginap di hotel selama masa libur Lebaran kali ini, jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang mampu menyentuh angka 80 hingga 85 persen.
Lebih lanjut, Boboy mencoba mengurai benang merah penyebab lesunya bisnis perhotelan di tengah libur panjang ini. Kondisi ekonomi nasional yang masih belum menunjukkan stabilitas menjadi salah satu faktor utama yang disorot.
Menurutnya, ketidakpastian ekonomi secara langsung memengaruhi kemampuan finansial masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata dan mengeluarkan biaya untuk akomodasi.
“Penurunan spending power, mungkin dipengaruhi oleh faktor ekonomi, ya. Jadi daya beli masyarakat, terutama dari kalangan menengah ke bawah, cukup tertekan. Ini yang membuat banyak orang lebih memilih untuk berhemat, termasuk dalam hal akomodasi,” jelasnya, menggambarkan betapa kondisi ekonomi memaksa masyarakat untuk memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan rekreasi.
- Paradoks Libur Panjang dan Sepinya Puncak
Sebuah ironi mencolok terlihat jelas di lapangan. Meskipun kalender menunjukkan libur Lebaran tahun 2025 lebih panjang dari tahun sebelumnya, fakta di lapangan justru berbanding terbalik dengan ekspektasi peningkatan kunjungan wisatawan.
Kawasan Puncak, yang selama ini dikenal sebagai magnet utama bagi wisatawan domestik saat musim liburan tiba, kini tampak lebih lengang dan sepi dibandingkan dengan suasana Lebaran di tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat, Puncak pun yang biasanya ramai saat Lebaran, sekarang terasa lebih lengang. Ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi lebih dominan dibanding panjangnya liburan,” kata Boboy, menekankan bahwa durasi libur panjang saja tidak cukup untuk mendongkrak sektor pariwisata jika kondisi ekonomi masyarakat sedang tidak baik.
Selain faktor ekonomi yang menjadi penghalang utama, Boboy juga menyoroti adanya pergeseran preferensi masyarakat selama masa libur Lebaran. Tradisi mudik yang kuat di Indonesia membuat banyak orang memanfaatkan momen libur panjang ini untuk kembali ke kampung halaman dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga besar.
Dalam konteks ini, pilihan untuk menginap di rumah keluarga atau kerabat menjadi prioritas dibandingkan menyewa kamar hotel.
“Banyak orang yang pulang kampung memanfaatkan libur panjang ini untuk bertemu keluarga. Mereka lebih memilih tinggal di rumah saudara daripada menginap di hotel,” pungkas Boboy, menjelaskan bahwa nilai kebersamaan dan tradisi mudik juga turut berkontribusi pada rendahnya tingkat hunian hotel di Kabupaten Bogor selama libur Lebaran 2025.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pelaku usaha perhotelan di Kabupaten Bogor. Harapan akan peningkatan pendapatan selama masa libur panjang Lebaran kali ini harus pupus, digantikan dengan tantangan untuk mencari strategi baru agar dapat bertahan dan kembali bangkit di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.***
sumber:timetoday.id













