NARASITODAY.COM, YANGON – Setelah hampir empat tahun diselimuti kesunyian mencekam pasca-kudeta 2021, gerbang-gerbang kota Yangon kini bersiap untuk tetap terbuka sepanjang malam.
Junta militer Myanmar mengumumkan pencabutan total jam malam di kota terbesar tersebut mulai Sabtu (27/12/2025), sebuah langkah simbolis yang diklaim sebagai kembalinya stabilitas.
Keputusan ini diambil hanya beberapa hari sebelum dimulainya pemilu bertahap yang dijadwalkan pada hari Minggu sebuah hajatan politik yang disebut junta sebagai jalan pulang menuju demokrasi, meski dunia internasional memandangnya dengan skeptisisme mendalam.
Sejak militer menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi, Yangon yang dihuni sekitar tujuh juta orang hidup dalam bayang-bayang pembatasan. Kehidupan malam yang dahulu semarak berubah menjadi lesu; bar dan restoran tutup lebih awal, dan taksi menghilang saat malam beranjak larut.
Kini, sisa jam malam yang sebelumnya berlaku pukul 01.00 hingga 03.00 resmi dihapuskan. Junta beralasan bahwa situasi keamanan kini sudah berada dalam kendali yang lebih baik.
“Stabilitas regional di wilayah Yangon kini membaik,” kata juru bicara junta, Zaw Min Tun, dalam pernyataan resminya pada Jumat (26/12/2025).
Pemerintah militer menegaskan bahwa pencabutan ini bertujuan untuk memulihkan ekonomi yang terpuruk dan memberikan “kenyamanan transportasi bagi masyarakat serta meningkatkan pengembangan bisnis.”
Namun, bagi banyak warga, pencabutan jam malam ini membawa nuansa ganda antara harapan dan kecemasan. Di balik klaim “normalitas” ini, Myanmar masih terjerumus dalam perang saudara yang menurut data PBB telah memaksa 3,6 juta orang mengungsi dan membuat separuh populasi hidup dalam kemiskinan.
Banyak pemuda di Yangon tetap waspada bukan karena jam malam, melainkan karena kebijakan wajib militer yang diberlakukan junta. Di sudut-sudut kota, kecemasan akan penangkapan atau perekrutan paksa pada malam hari tetap menghantui, meski perintah pembatasan jalan resmi telah diangkat.
Langkah ini juga dipandang sebagai upaya “mempercantik” citra pemerintahan sebelum pemilu yang akan berlangsung selama sebulan penuh. Namun, dengan Aung San Suu Kyi yang tetap dipenjara dan partainya yang dibubarkan, banyak pengawas demokrasi menyebut proses ini hanyalah sebuah kosmetik politik.
Dunia kini menanti apakah lampu-lampu di jalanan Yangon yang kembali menyala mulai Sabtu malam ini benar-benar menandakan berakhirnya krisis, atau sekadar dekorasi sementara di tengah konflik yang belum usai.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber












