Sejarah dan Tradisi Jumat Agung dalam Perayaan Tri Hari Suci Paskah

0
Ilustrasi Good Friday

NARASITODAY.COM – Umat Kristiani di seluruh penjuru bumi menyambut sebuah hari yang sarat makna: Jumat Agung atau Good Friday. Hari yang jatuh pada hari Jumat sebelum Paskah ini bukan sekadar penanda akhir pekan biasa, melainkan sebuah peringatan khusyuk atas penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus.

Peristiwa sentral dalam teologi Kristen ini melambangkan puncak pengorbanan Sang Mesias demi menebus dosa umat manusia, sebuah narasi yang melintasi ruang dan waktu, menyentuh hati jutaan jiwa.

Namun, mengapa hari yang mengenang sebuah tragedi justru menyandang nama “Baik” atau “Agung”?

Secara harfiah, Good Friday memang diterjemahkan sebagai “Jumat Agung” dalam bahasa Indonesia. Mengutip Encyclopedia Britannica, tradisi peringatan hari ini telah mengakar sejak abad ke-2 Masehi. Sejak awal, Jumat Agung dijalani sebagai waktu untuk berpuasa, merenungkan dosa, dan menghayati kedalaman pengorbanan Kristus.

Dalam tradisi Gereja Katolik Roma, umat mengikuti liturgi khusus yang memuat pembacaan kisah sengsara Yesus, penghormatan terhadap salib sebagai simbol pengorbanan, dan penerimaan Komuni Kudus sebagai wujud persatuan dengan Kristus.

Baca Juga :  Pj. Bupati Bogor Tegaskan Program Kebijakan Pemkab Bogor Harus Selaras Dengan Asta Cita Pemerintah Pusat

Lantas, dari mana sesungguhnya asal-usul istilah “Good Friday” ini bermula?

  • Asal Usul Sebuah Nama yang Sarat Makna

Meskipun hari ini memperingati peristiwa penyaliban yang penuh penderitaan, penggunaan kata “Good” atau “Agung” bukanlah sebuah ironi.

Justru sebaliknya, istilah ini dipilih untuk menyoroti inti dari ajaran Kristen: bahwa kematian Yesus Kristus, meskipun tragis, adalah jalan menuju keselamatan bagi seluruh umat manusia. Kematian-Nya dipandang sebagai pengorbanan tertinggi yang membuka pintu penebusan dosa dan kehidupan abadi.

Menariknya, penamaan hari ini berbeda-beda di berbagai budaya. Dalam bahasa Jerman, Jumat Agung dikenal sebagai “Karfreitag,” yang secara harfiah berarti “Jumat Dukacita.” Penamaan ini lebih menekankan suasana duka dan penyesalan atas dosa-dosa manusia yang diyakini menjadi penyebab penderitaan Kristus.

Perbedaan penamaan ini menunjukkan bagaimana budaya dan bahasa dapat memberikan perspektif yang berbeda dalam memahami sebuah peristiwa teologis.

Baca Juga :  Gema Lonceng di Balik Deru Meriam, Putin Umumkan Gencatan Senjata Paskah 32 Jam

Perayaan Jumat Agung diwarnai dengan beragam tradisi yang berbeda-beda di antara berbagai denominasi Kristen. Dalam Gereja Katolik Roma, tidak diadakan Misa Kudus pada hari Jumat ini. Sebagai gantinya, umat mengikuti liturgi khusus yang berpusat pada penghormatan salib dan mengenang sengsara Kristus.

Sejak Abad Pertengahan, hanya imam yang menerima Komuni Kudus yang telah dikonsekrasikan pada Misa Kamis Putih. Namun, sejak tahun 1955, umat awam juga diperbolehkan menerima Komuni pada hari ini sebagai bagian dari liturgi Jumat Agung.

Sementara itu, dalam tradisi Ortodoks Timur, Jumat Agung dikenal dengan istilah “Great Friday” atau Jumat Agung yang Agung. Hari ini dirayakan dengan liturgi khusus yang panjang dan khusyuk, seringkali melibatkan pembacaan kisah-kisah dari Injil tentang sengsara dan kematian Kristus.

Gereja-gereja Protestan juga umumnya mengadakan kebaktian khusus pada hari Jumat Agung, yang diisi dengan khotbah, pembacaan Alkitab, dan perenungan tentang makna pengorbanan Kristus.

Baca Juga :  Krisis Bahan Bakar Membayangi Paskah, Warga Australia Diminta Tetap Mudik dengan Bijak

Di Indonesia, Jumat Agung dikenal luas sebagai Hari Wafatnya Yesus Kristus atau Jumat Agung. Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan hari ini sebagai hari libur nasional keagamaan, menghormati makna pentingnya bagi umat Kristiani di seluruh nusantara.

Umat Kristiani di Indonesia memperingati Jumat Agung dengan menghadiri ibadah khusus di gereja, melakukan perenungan pribadi tentang makna pengorbanan Kristus, serta mengikuti berbagai kegiatan keagamaan lainnya yang diadakan oleh komunitas gereja masing-masing.

Jumat Agung bukan sekadar hari libur, melainkan sebuah kesempatan bagi umat Kristiani untuk memperdalam iman, merefleksikan kasih Allah yang begitu besar melalui pengorbanan Yesus Kristus, dan memperbarui komitmen untuk hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

Di balik nama “baik” atau “agung,” tersimpan sebuah kisah cinta dan pengorbanan yang abadi, sebuah fondasi iman yang terus menginspirasi dan memberikan harapan bagi jutaan orang di seluruh dunia.***