NARASITODAY.COM, MOSKOW – kecamuk perang yang telah berlangsung selama empat tahun, sebuah jeda kemanusiaan kembali muncul di cakrawala. Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi mengumumkan gencatan senjata sementara di seluruh lini pertempuran Ukraina untuk menghormati perayaan Paskah Ortodoks.
Pengumuman yang dirilis Kremlin pada Kamis (9/4/2026) ini menjanjikan penghentian aktivitas tempur selama 32 jam, mulai Sabtu (11/4) pukul 16.00 waktu Moskow hingga berakhirnya hari Minggu (12/4). Sebuah keputusan yang memberikan sedikit ruang bagi masyarakat di kedua negara untuk menjalankan tradisi keagamaan mereka tanpa bayang-bayang ledakan.
Instruksi Tertinggi di Garis Depan
Keputusan ini diambil Putin dalam kapasitasnya sebagai pemegang komando militer tertinggi. Melalui rilis resmi Kepresidenan Rusia, instruksi tegas telah diturunkan kepada jajaran petinggi militer di lapangan.
“Atas wewenang Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Federasi Rusia, Vladimir Putin, gencatan senjata telah diumumkan sehubungan dengan liburan Paskah Ortodoks yang akan berlaku mulai 11 April pukul 16.00 waktu Moskow hingga akhir hari pada 12 April 2026,” demikian bunyi rilis resmi tersebut.
Presiden Putin telah meminta Menteri Pertahanan Andrei Belousov dan Kepala Staf Umum Valery Gerasimov untuk memastikan seluruh pasukan menghentikan serangan. Namun, Kremlin tetap memberikan catatan kaki yang waspada: pasukan Rusia diperintahkan tetap siaga penuh guna mengantisipasi kemungkinan provokasi atau tindakan agresif dari pihak lawan di tengah masa jeda tersebut.
Sinyal perdamaian sementara ini disambut baik oleh pihak Ukraina. Presiden Volodymyr Zelensky, yang ternyata telah mengajukan proposal serupa sejak bulan lalu, memberikan konfirmasi melalui kanal komunikasinya.
Bagi warga Ukraina yang telah hidup dalam perlindungan bawah tanah, jeda ini adalah momen yang sangat dinantikan.
“Kami mengusulkan gencatan senjata selama liburan Paskah tahun ini dan akan bertindak sesuai dengan usulan tersebut,” tulis Zelensky melalui unggahan di media sosial X pada Jumat (10/4).
Zelensky menekankan bahwa rakyat membutuhkan “Paskah yang bebas dari ancaman dan pergerakan nyata.” Ia pun secara terbuka mendesak agar Rusia tidak kembali melancarkan serangan brutal begitu masa libur suci ini berakhir. Gereja Ortodoks di kedua negara memang menjadwalkan perayaan Paskah pada Minggu, 12 April ini.
Antara Tradisi Suci dan Luka Lama
Langkah gencatan senjata Paskah sebenarnya bukan hal baru. Tahun lalu, Rusia sempat mengambil langkah serupa selama tiga hari. Namun, sejarah mencatat bahwa masa suci tersebut kerap dinodai dengan aksi saling tuduh terkait pelanggaran kesepakatan di garis depan.
Sejak invasi dimulai pada Februari 2022, berbagai proposal perdamaian dari komunitas internasional telah silih berganti diajukan namun selalu membentur tembok buntu. Kini, dunia kembali menaruh harapan pada 32 jam waktu Moskow ini. Akankah doa-doa Paskah di katedral Kyiv dan Moskow benar-benar dikumandangkan dalam hening, ataukah deru mesin perang akan kembali memecah kesunyian sebelum lilin-lilin gereja padam?.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













