NARASITODAY.COM – Pemerintah Kabupaten Bogor bergerak untuk mengurai benang kusut aksesibilitas yang selama ini menghantui warga Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, dan Desa Petir, Kecamatan Dramaga.
Sebuah rencana ambisius untuk membangun jembatan gantung, yang oleh masyarakat setempat akrab disapa “rawayan,” kini tengah digodok. Langkah ini diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak akan jalur penghubung yang aman dan layak bagi aktivitas sehari-hari warga di kedua desa.
Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi, menyampaikan bahwa inisiatif pembangunan jembatan gantung ini merupakan respons cepat pemerintah daerah terhadap kesulitan yang dialami masyarakat, terutama dalam melintasi sungai yang memisahkan kedua desa.
“Sehingga dibutuhkan secepatnya akses tahap awal jembatan gantung dahulu,” tegas Ade Ruhandi, menunjukkan keseriusan Pemkab Bogor dalam menangani persoalan ini.
Pria yang lebih dikenal dengan sapaan Jaro Ade ini menambahkan bahwa aspirasi masyarakat terkait kebutuhan jembatan penghubung telah lama diterima oleh Pemkab Bogor. Bahkan, laporan mengenai kondisi sulit warga telah disampaikan kepada Bupati Bogor, Rudy Susmanto, sebagai bentuk urgensi permasalahan.
Lebih menggembirakan lagi, rencana pembangunan jembatan ini mendapatkan sambutan hangat dan dukungan penuh dari masyarakat setempat. Jaro Ade mengungkapkan apresiasinya terhadap kearifan lokal, di mana seorang tokoh pemilik lahan di sekitar lokasi rencana pembangunan telah memberikan izin penggunaan tanahnya sebagai jalur akses menuju jembatan.
“Ada tokoh pemilik tanah sudah mengizinkan untuk menghibahkan akses jalan. Ini kan luar biasa, kita perlu apresiasi,” ungkapnya, menggambarkan betapa besar semangat gotong royong dalam mewujudkan jembatan impian ini.
Kisah pilu puluhan pelajar di wilayah tersebut sebelumnya telah menjadi sorotan. Mereka terpaksa mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi Sungai Cihideung setiap hari demi mencapai sekolah. Tanpa adanya jembatan yang memadai, sungai selebar puluhan meter itu menjadi penghalang utama bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Aktivitas berbahaya ini menjadi rutinitas bagi para pelajar yang berasal dari Kampung Sempur, Desa Petir, dan Kampung Cihideung Udik, Desa Cihideung Udik. Mereka harus berjuang menaklukkan dinginnya air sungai, seringkali dengan pakaian basah atau terlambat tiba di sekolah.
Rencana pembangunan jembatan gantung ini tentu menjadi secercah harapan, bukan hanya sebagai infrastruktur fisik, tetapi juga sebagai jembatan yang akan menghubungkan mimpi dan masa depan generasi penerus di kedua desa.***














