5 Risiko Kesehatan Mental Karena Terlalu Sering Mencari Validasi dari Orang Lain

0
Ilustrasi berdiskusi

NARASITODAY.COM – Di era digital yang penuh citra dan ekspektasi, kebutuhan manusia akan diterima dan diakui oleh lingkungan sekitarnya kini menjelma menjadi sesuatu yang tak lagi sekadar kebutuhan emosional, melainkan dorongan psikologis yang terus menuntut pemenuhan.

Lonceng notifikasi dan deretan emoji senyum di media sosial seolah menjadi ukuran sahih atas keberhargaan diri. Namun, di balik semua itu, ada sisi gelap yang jarang disadari kesehatan mental yang perlahan terkikis oleh ketergantungan terhadap validasi eksternal.

Lima di antaranya patut diwaspadai dan dikenali lebih awal.

1. Kesehatan Mental Menurun: Ketika Emosi Dikendalikan Orang Lain

Salah satu dampak paling nyata dari ketergantungan pada validasi adalah fluktuasi emosi yang ekstrem. Ketika penerimaan atau pujian datang, seseorang merasa sangat bersemangat. Namun begitu tidak ada respons, perasaan tidak berharga, cemas, bahkan depresi, bisa muncul tanpa peringatan. Kondisi ini menciptakan roller coaster emosional yang melelahkan.

Baca Juga :  Tidur Buruk? Kenali 5 Tanda-Tanda Tidur Kurang Berkualitas dan Cara Mengatasinya

2. Hilangnya Kemandirian dalam Mengambil Keputusan

Ketika seseorang terlalu bergantung pada opini orang lain, maka ia akan cenderung kehilangan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan sendiri. Alih-alih mengikuti kata hati, mereka lebih memilih untuk menjalani hidup berdasarkan ekspektasi orang lain. Hal ini tidak hanya membuat hidup terasa sempit dan penuh tekanan, tapi juga mengaburkan arah tujuan personal.

3. Hubungan Sosial yang Toksik dan Melelahkan

Pencarian validasi juga bisa mengganggu dinamika hubungan sosial. Keinginan untuk terus-menerus mendapat pengakuan membuat seseorang cenderung menjadi posesif, menuntut, atau terlalu bergantung secara emosional. Hal ini pada akhirnya dapat membebani relasi yang semula sehat.

Baca Juga :  Momen Unik! Saat Wabup Bogor Jaro Ade Borong Ladang Ubi Milik Warga Desa Purwasari Dramaga

4. Fokus Terpecah dan Produktivitas Menurun

Orang yang terlalu fokus mencari pengakuan dari luar cenderung mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi pada hal-hal yang penting bagi diri mereka. Pikiran mereka sibuk memikirkan citra diri, alih-alih fokus pada pekerjaan atau tujuan jangka panjang. Dalam jangka waktu tertentu, kondisi ini bisa menurunkan produktivitas dan pencapaian personal secara signifikan.

5. Krisis Identitas dan Kehilangan Jati Diri

Ini mungkin adalah risiko paling menyakitkan. Ketika hidup terlalu lama mengikuti harapan orang lain, seseorang bisa kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri. Mereka lupa apa yang sebenarnya mereka sukai, impikan, dan perjuangkan.

Mengembalikan Diri Lewat Validasi Internal

Psikolog klinis Dian Paramita menyebut bahwa ketergantungan terhadap validasi eksternal memang sulit dihindari, apalagi di zaman yang menilai seseorang dari like dan views. Namun ia menekankan pentingnya membangun self-validation, atau pengakuan dari dalam diri sendiri.

Baca Juga :  5 Kebiasaan Malam yang Membantu Kamu Menutup Hari dengan Bahagia

Langkah-langkah yang dianjurkan termasuk membiasakan afirmasi positif, menetapkan batasan sehat dalam bersosialisasi, serta mengembangkan kesadaran diri (self-awareness). Terapi juga dapat menjadi opsi penting, terutama bila seseorang mulai merasa kehilangan arah atau mengalami tekanan psikologis yang berat.

Menjadi Cukup untuk Diri Sendiri

Mencari pengakuan adalah bagian dari menjadi manusia. Tapi saat hidup terus bergantung pada itu, kita bisa kehilangan lebih dari yang kita sadari. Seperti kata pepatah, “Jika kamu terus menyesuaikan diri agar disukai semua orang, kamu akhirnya tidak akan disukai oleh siapa pun termasuk dirimu sendiri.”

Sudah saatnya kita belajar berkata cukup. Bahwa kita berharga, bahkan ketika tidak dilihat siapa-siapa.***