NARASITODAY.COM – Awal tahun ini, ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Di tengah ketegangan global akibat perang dagang yang dipicu kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, kekhawatiran pun mengemuka. apakah Indonesia akan ikut terjerembab ke dalam resesi?
Namun, di tengah kecemasan itu, sebuah suara tenang datang dari kampus Universitas Indonesia. Dalam sebuah kuliah umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Kamis (15/5/2025), ekonom senior Chatib Basri mencoba meredakan kekhawatiran publik.
“Jadi, enggak usah khawatir dengan terjadinya resesi,” ucap Chatib, yang juga merupakan anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan mantan Menteri Keuangan RI periode 2013–2014.
Apa yang membuatnya begitu yakin? Bukan karena Indonesia telah membangun ketahanan ekonomi luar biasa terhadap guncangan global, melainkan karena satu hal yang sederhana dan jujur: keberuntungan.
“Karena apa? Dua hal, good policy response and good luck. Ini sebetulnya kita enggak design, tapi karena kita enggak kompetitif,” ungkapnya dengan nada santai, namun penuh makna.
Menurut Chatib, Indonesia tidak terlalu terdampak oleh guncangan eksternal karena memang tidak terlalu terlibat dalam ekonomi global. Dalam konteks ini, ketertinggalan justru menjadi tameng.
“Kita enggak mampu, enggak kompetitif, less integrated, akibatnya kita enggak terlalu kena banyak di dalam konteks global ini,” tegasnya.
Data pun memperkuat argumennya. Rasio ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia jauh lebih kecil dibanding negara-negara tetangga. Singapura, misalnya, punya rasio ekspor terhadap PDB hingga 180%. Vietnam 79%, Thailand sekitar 60%. Indonesia? Hanya sekitar 25%.
“Jadi, kalian jangan kaget kalau pertumbuhan ekonomi tahun ini Indonesia akan lebih tinggi dibandingkan Vietnam atau Singapura. Simply karena soal rasio dari ekspor terhadap GDP-nya yang relatif kecil,” jelas Chatib.
Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) pun menyampaikan proyeksi serupa. Dalam World Economic Outlook (WEO) edisi April 2025, IMF memang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1% menjadi 4,7% untuk periode 2025–2026. Namun, Vietnam diperkirakan akan lebih terpukul akibat efek domino perang dagang.
Menurut IMF, ekonomi Vietnam yang tumbuh 7,1% pada 2024 akan melambat tajam menjadi 5,2% tahun ini, dan terus menurun hingga 4% pada 2026 lebih rendah dari Indonesia.
Meski demikian, Chatib mengingatkan bahwa keberuntungan ini ada batasnya. Ketika ekonomi global nanti mulai pulih, negara-negara yang lebih terintegrasi dengan dunia akan lebih cepat bangkit. Sementara Indonesia, karena minim keterkaitan global, justru bisa tertinggal dalam pemulihan.
“Ekspor itu kan salah satu komponen utama penopang PDB. Kalau ekspor kita enggak naik, ya pemulihan ekonomi juga enggak bisa maksimal,” jelasnya.
Dengan nada realistis, Chatib menggambarkan potret ekonomi Indonesia hari ini diuntungkan oleh keterbatasan, tapi harus bersiap untuk masa depan yang menuntut lebih dari sekadar keberuntungan.***














