Ekonomi RI Tertatih di Awal 2025: Antara Ancaman Global dan Kelesuan Domestik

0
Ilustrasi Ekonomi

NARASITODAY.COM – Mata publik tertuju ke Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Senin (5/5/2025). Siang ini, lembaga tersebut dijadwalkan merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal I-2025.

Namun, harapan agar angka itu menyentuh 5% tampaknya terlalu tinggi. Di balik grafik dan tabel statistik, tersembunyi kisah ekonomi yang tersendat oleh tekanan global dan domestik.

Ketidakpastian global datang dalam rupa kebijakan dagang agresif Presiden AS Donald Trump, yang kembali menghidupkan perang tarif dengan negara-negara mitranya, termasuk Indonesia. Gelombang tekanan ini terasa kuat, menciptakan keraguan di dunia usaha dan menahan laju konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama ekonomi nasional.

“Ya tentu kalau matematika ada pembulatan [jadi 5%],” ujar seorang pejabat ekonomi kepada media pada Jumat lalu (2/5/2025), seolah menyiratkan bahwa target tersebut mungkin hanya akan tercapai lewat angka yang dibulatkan.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 institusi memperkirakan pertumbuhan hanya akan mencapai 4,94% (yoy), bahkan mengalami kontraksi 0,9% dibanding kuartal sebelumnya (qtq). Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, lebih pesimis lagi—ia memproyeksikan hanya 4,91% pertumbuhan, dengan konsumsi rumah tangga yang menurutnya “hanya akan tumbuh 4,9%” di kuartal ini.

Baca Juga :  Terjerat Konflik Timur Tengah, Ekonomi dan Pariwisata Uni Emirat Arab Mulai Terguncang

Menurut Andry, pelemahan konsumsi terlihat jelas. Rumah tangga mulai menahan belanja dan memilih menabung, sebagai sinyal kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi yang tak pasti. “Pencairan fiskal yang tertunda, terutama untuk proyek infrastruktur dan investasi yang didukung pemerintah, telah menyebabkan laju pembentukan modal yang lebih lambat selama periode tersebut,” tulis Andry dalam catatannya.

Industri Tertekan, Dunia Usaha Menahan Napas

Tekanan juga menyasar sektor industri manufaktur. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) dari S&P Global menunjukkan kontraksi ke angka 46,7 pada April 2025 level terburuk sejak Agustus 2021, saat Indonesia diguncang pandemi Covid-19 varian Delta.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut situasi ini tak lepas dari perang dagang. “PMI turun kan karena trade war. Jadi, dunia kan perdagangannya shrinking, pertumbuhan Amerika juga negatif. Jadi ini namanya optimisme yang terganggu oleh trade war,” katanya, Senin (5/5/2025).

Sebagai respons, pemerintah mendorong percepatan perjanjian dagang IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) demi mengurangi ketergantungan pada pasar utama seperti AS dan China.

“Kita sedang mendorong untuk IEU CEPA. Memang sudah waktunya untuk mendiversifikasi pasar ekspor dan menurunkan tariff barrier,” tegas Airlangga.

Baca Juga :  G7 Gelar Pertemuan di Paris untuk Redam Ketegangan Ekonomi Global dan Tingkatkan Koordinasi Pasokan Mineral Kritis

Hotel Sepi, PHK Menghantui

Tekanan ekonomi tak hanya mencuat dalam data, tapi juga terasa nyata di sektor perhotelan. Efisiensi anggaran pemerintah membuat banyak hotel kehilangan pasar utama mereka: kegiatan MICE (meetings, incentives, conventions, exhibitions) dari instansi negara.

“Kontribusi pemerintah besar, antara 40-60%, kalau diperhatikan banyak daerah yang kontribusinya lebih dari itu, sampai 70%,” ungkap Sekjen PHRI Maulana Yusran. Ia menambahkan, “Setengah 50% sudah berkurang khususnya hotel yang bergerak ke venue MICE.”

Warga Pilih Menabung, Mall Kian Sepi

Selama Ramadan 2025, bukannya meningkat, konsumsi justru melandai. Data Bank Indonesia mencatat lonjakan tabungan perorangan, naik 6,4% yoy—tertinggi sejak November 2022. Sebaliknya, pusat perbelanjaan terlihat sepi, termasuk di sentra perdagangan seperti Mangga Dua.

“Waktu pandemi kemarin masih mending banyak yang belanja. Sekarang Rp 50 ribu sehari aja belum tentu. Kita lebih banyak bengong sekarang dibanding ngelayanin pelanggan,” keluh Anita, pedagang tas di Mangga Dua Square.

Menurutnya, banyak pelanggan dari daerah yang biasanya datang karena dinas dan menginap di hotel kini tak lagi muncul. “Sebelumnya banyak orang-orang daerah yang ke Jakarta buat dinas, baliknya pingin bawa oleh-oleh dari Jakarta, sekarang udah engga ada lagi,” tambahnya.

Baca Juga :  Posisi Keir Starmer sebagai Perdana Menteri Inggris Diambang Krisis Setelah Skandal Jeffrey Epstein dan Pengunduran Diri Orang Terdekat

Mobil Tak Laku, Sinyal Lesunya Konsumsi Tersier

Tekanan ekonomi juga terekam lewat anjloknya penjualan mobil. Data GAIKINDO menunjukkan penurunan 5,12% yoy pada Maret 2025, dan secara kumulatif Januari-Maret, penjualan mobil turun 3,66% dari tahun sebelumnya.

Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menilai ini sebagai sinyal jelas dari pelemahan daya beli. “Konsumen tampaknya lebih memilih mengalokasikan dana untuk kebutuhan primer, menabung, atau membayar kewajiban keluarga yang lebih penting dan mendesak,” ujarnya.

Deflasi Bukan Karena Lemahnya Daya Beli?

Di tengah situasi lesu ini, BPS melaporkan deflasi beruntun pada Januari dan Februari 2025—fenomena langka menjelang Ramadan. Namun Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan, “Ini bukan karena penurunan daya beli tapi karena diskon tarif listrik yang memberikan andil deflasi dua bulan berturut-turut.”

Menanti Kepastian Ekonomi

Sementara BPS akan segera mengumumkan angka resmi pertumbuhan ekonomi, masyarakat dan dunia usaha sudah merasakan dampaknya. Dari pedagang pasar hingga pelaku industri besar, tekanan terasa nyata. Narasi ekonomi Indonesia awal 2025 bukan hanya tentang angka pertumbuhan, tapi tentang rasa waswas, strategi bertahan, dan harapan akan stabilitas baru.***