NARASITODAY.COM, NEW DELHI – India resmi mendeklarasikan posisinya sebagai kekuatan baru ekonomi global. Dalam tinjauan ekonomi akhir tahun yang dirilis Senin malam (29/12/2025), pemerintah India mengumumkan bahwa perekonomian nasionalnya telah melampaui Jepang untuk menduduki peringkat keempat terbesar di dunia.
Loncatan ini menandai tonggak sejarah baru bagi New Delhi. Dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai US$ 4,18 triliun, India kini mulai membidik Jerman sebagai target berikutnya. Pemerintah memproyeksikan posisi ketiga dunia dapat diraih dalam waktu kurang dari tiga tahun, dengan target PDB menembus US$ 7,3 triliun pada 2030.
“India termasuk di antara negara dengan pertumbuhan ekonomi utama tercepat di dunia dan berada dalam posisi yang kuat untuk mempertahankan momentum ini,” tulis pemerintah dalam dokumen pengarahan ekonomi tersebut, sebagaimana dilansir AFP.
Laju pertumbuhan ini dianggap sebagai bukti “ketahanan” nasional. Padahal, India sempat dihantam tekanan eksternal berat, termasuk tarif besar dari Washington pada Agustus lalu terkait pembelian minyak Rusia. Namun, data menunjukkan bahwa ekonomi India tetap melaju, bahkan bersiap menjauh dari kejaran para pesaingnya.
“Dengan PDB senilai US$ 4,18 triliun, India telah melampaui Jepang untuk menjadi ekonomi terbesar keempat dunia, dan siap menyingkirkan Jerman dari peringkat ketiga dalam dua setengah hingga tiga tahun ke depan,” bunyi dokumen resmi tersebut.
Meski demikian, pengakuan global secara penuh masih menunggu rilis data final pada 2026. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi India baru akan benar-benar mengungguli Jepang tahun depan dengan proyeksi angka US$ 4,51 triliun berbanding US$ 4,46 triliun.
Namun, di balik angka triliunan dolar tersebut, tersembunyi sebuah kontras yang tajam. Meski secara agregat India adalah raksasa, kesejahteraan per individunya masih tertinggal jauh. Berdasarkan data Bank Dunia 2024, PDB per kapita India hanya berada di level US$ 2.694. Angka ini 12 kali lebih kecil dari Jepang dan 20 kali lebih rendah dibandingkan Jerman.
Tantangan terbesar India terletak pada bonus demografinya. Lebih dari seperempat penduduknya berada di usia produktif (10-26 tahun), namun lapangan kerja yang layak masih menjadi barang langka bagi jutaan lulusan muda setiap tahunnya.
“Kisah pertumbuhan India dibentuk oleh kemampuannya menciptakan lapangan kerja berkualitas yang mampu menyerap tenaga kerja yang terus bertambah secara produktif serta menghadirkan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” catat laporan ekonomi pemerintah.
Upaya Perdana Menteri Narendra Modi dalam memangkas pajak konsumsi dan mereformasi undang-undang ketenagakerjaan menjadi mesin penggerak utama tahun ini. Langkah ini dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi yang sempat menyentuh titik terendah dalam empat tahun terakhir.
Di sisi lain, pasar keuangan masih menunjukkan kerentanan. Mata uang Rupee sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS pada awal Desember 2025 akibat kekhawatiran terkait tarif ekspor dan ketidakpastian dagang dengan Amerika Serikat.
Setelah berhasil melampaui Inggris pada 2022, kini dunia menunggu apakah “Gajah Asia” ini mampu mempertahankan langkah besarnya untuk menggusur Jerman dan mengukuhkan diri di podium tiga besar ekonomi dunia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














