Stasiun Karet: Menanti Kepastian di Tengah Padatnya Lintasan Rel Jakarta

0
Stasiun Karet

NARASITODAY.COM – Di tengah hiruk-pikuk Jakarta dan lalu-lalang kereta yang tiada henti, Stasiun Karet berdiri sebagai salah satu titik penting dalam jaringan Commuter Line Ibu Kota.

Namun nasib stasiun mungil yang berada di antara Stasiun BNI City dan Tanah Abang itu tengah digantungkan secara harfiah dan administratif.

Rencana penutupan Stasiun Karet sempat menjadi bahan perbincangan hangat. Ditetapkan akan berhenti beroperasi pada April lalu, nyatanya hingga awal Mei 2025, stasiun ini masih melayani ribuan penumpang setiap harinya.

“Belum ada perkembangan terbaru terkait penutupan Stasiun Karet,” ujar EVP Corporate Secretary PT KAI (Persero), Raden Agus Dwinanto Budiadji kepada CNBC Indonesia, Minggu (4/5/2025).

Menurut Raden, saat ini pihaknya masih mengikuti rencana awal: memperbaiki dan mempersiapkan fasilitas integrasi antara Stasiun Karet dan Stasiun BNI City (Sudirman Baru), yang hanya berjarak sekitar 350 meter.

Baca Juga :  Utang Nasional AS Melampaui 100% dari PDB, Menjadi Isu Baru yang Mengkhawatirkan

“Perkembangannya masih sesuai program sebelumnya yakni menyiapkan perbaikan fasilitas integrasi stasiun Karet dan BNI City,” jelasnya.

Namun soal kepastian waktu penutupan, Raden menegaskan bahwa KAI belum dapat memberikan tanggal. Diskusi lebih lanjut masih perlu dilakukan dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA). “Target penutupan belum tahu ya, belum dibahas lagi dengan DJKA,” tambahnya.

Dekat, Tapi Tak Efisien

Keberadaan Stasiun Karet memang lama dipertanyakan efektivitasnya. Dengan jarak yang hanya sekitar 350 meter dari Stasiun BNI City, keberadaan dua stasiun yang terlalu berdekatan dinilai justru memperlambat waktu tempuh perjalanan kereta.

Baca Juga :  Rudy Susmanto Sebut Retret Kepala Daerah Penting Untuk Memahami Kebijakan Strategis Pemerintah Pusat

Namun persoalan utama bukan hanya efisiensi, tetapi juga keselamatan. Data PT KAI menunjukkan bahwa dalam satu jam, sebanyak hampir 2.000 penumpang masuk melalui Stasiun Karet. Dengan interval keberangkatan setiap 10 menit, idealnya ruang tunggu stasiun mampu menampung sekitar 330 orang. Faktanya, kapasitas hall saat ini hanya sekitar 150 orang.

Ketidaksesuaian ini dianggap membahayakan, terutama dalam kondisi jam sibuk. Belum lagi, lokasi pintu masuk yang berada dekat perlintasan jalan sering kali menyebabkan kemacetan dan potensi risiko kecelakaan.

Stasiun yang Terlalu Kecil untuk Lalu Lintas yang Terlalu Besar

Ironisnya, di tengah semangat integrasi transportasi massal, Stasiun Karet justru terlihat tak mampu lagi mengimbangi arus urbanisasi yang melesat. Modernisasi transportasi Jakarta kini menuntut efisiensi, keamanan, dan integrasi yang lebih kuat.

Baca Juga :  Bogor Diserbu Wisatawan, Stasiun Penuh Sesak di Libur Panjang Waisak

Sementara itu, proses pembangunan pintu masuk baru di Stasiun BNI City masih berlangsung. Langkah ini diyakini menjadi solusi jangka panjang yang akan menggantikan peran Stasiun Karet, agar mobilitas masyarakat tetap terjamin tanpa harus mengorbankan kenyamanan dan keselamatan.

Bagi para penumpang harian, Stasiun Karet bukan sekadar tempat naik turun kereta. Ia adalah bagian dari rutinitas, tempat dimulainya perjalanan menuju pusat bisnis ibu kota atau pulang ke rumah selepas bekerja. Kini, mereka menanti dengan sabar: apakah stasiun kecil ini akan terus berdetak, atau perlahan memudar dari peta perkeretaapian Jakarta.***