NARASITODAY.COM – Diare adalah salah satu gangguan pencernaan yang paling umum dialami oleh orang dari berbagai usia. Meskipun sering dianggap sepele, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi tanda adanya infeksi yang lebih serius, terutama jika tidak ditangani dengan benar. Menariknya, penyebab diare bisa sangat beragam, namun dua yang paling umum adalah infeksi virus dan infeksi bakteri.
Meski gejala yang ditimbulkan terlihat serupa, mengetahui perbedaan antara diare yang disebabkan oleh virus dan bakteri sangat penting. Tak hanya membantu menentukan tindakan medis yang tepat, pemahaman ini juga bisa mencegah komplikasi yang lebih berat, terutama bagi anak-anak, lansia, atau mereka dengan sistem imun lemah.
Berikut penjabaran lebih rinci mengenai bagaimana cara membedakan keduanya, dilihat dari gejala, karakteristik feses, penyebab penularan, hingga penanganannya.
1. Durasi Gejala
Salah satu indikator awal yang bisa kamu perhatikan adalah berapa lama gejala diare berlangsung.
Diare yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti rotavirus atau norovirus, biasanya berlangsung relatif singkat, yakni sekitar 2 hingga 7 hari. Setelah itu, gejala umumnya membaik dengan sendirinya, terutama jika tubuh mendapat asupan cairan yang cukup.
Namun, jika gejala berlangsung lebih dari seminggu atau bahkan mencapai dua minggu, kemungkinan besar penyebabnya adalah infeksi bakteri. Beberapa jenis bakteri seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), atau Shigella bisa menimbulkan diare yang lebih sulit sembuh dan membutuhkan penanganan medis khusus.
2. Karakteristik Feses
Bentuk dan isi feses adalah salah satu cerminan langsung dari kesehatan saluran cerna. Pada diare akibat virus, feses yang dikeluarkan cenderung encer, berwarna terang, dan tidak mengandung darah atau lendir. Bau feses pun umumnya tidak terlalu menyengat.
Sementara itu, diare akibat infeksi bakteri sering kali disertai dengan lendir, bahkan darah, dan bau feses cenderung lebih tajam, menyengat, dan tidak biasa. Ini disebabkan oleh peradangan yang terjadi di usus akibat toksin yang diproduksi oleh bakteri.
3. Gejala Penyerta
Meski sama-sama menyebabkan gangguan pencernaan, gejala penyerta dari masing-masing infeksi bisa berbeda intensitasnya.
Infeksi virus sering kali disertai demam ringan, sakit kepala, mual, muntah, dan nyeri otot, menyerupai gejala flu. Sementara itu, infeksi bakteri cenderung memicu reaksi tubuh yang lebih kuat, seperti demam tinggi, dehidrasi cepat, hingga kram perut yang tajam dan konstan.
4. Penyebab dan Penularan
Dari segi penularan, virus penyebab diare sangat mudah menyebar, terutama di lingkungan dengan sanitasi buruk atau dalam kelompok usia rentan seperti anak-anak. Rotavirus, misalnya, adalah penyebab utama diare akut pada anak-anak di seluruh dunia.
Sementara itu, bakteri penyebab diare lebih sering masuk ke tubuh melalui makanan atau air yang tidak higienis. Daging yang kurang matang, susu yang tidak dipasteurisasi, atau air minum yang terkontaminasi adalah jalur umum bagi Salmonella, E. coli, dan Shigella untuk menginfeksi tubuh manusia.
5. Penanganan
Karena sebagian besar infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya, penanganan biasanya bersifat simtomatik dan fokus pada hidrasi. Minum larutan rehidrasi oral (oralit), air putih, atau cairan elektrolit sangat disarankan untuk mencegah dehidrasi.
Namun, jika diare disebabkan oleh bakteri, maka perlu diagnosis yang lebih spesifik dan kemungkinan besar pengobatan dengan antibiotik, tergantung pada jenis bakteri dan tingkat keparahan infeksi. Penggunaan antibiotik pun tidak boleh sembarangan, karena bisa memicu resistensi jika tidak digunakan secara tepat.














