NARASITODAY.COM – Suasana tegang menyelimuti ruang parlemen Israel pada Kamis (22/5/2025) lalu. Di tengah perdebatan panjang soal situasi di Gaza, sebuah suara muncul lantang tak sekadar berbeda pendapat, tapi mengguncang narasi dominan. Suara itu datang dari Ayman Odeh, seorang politikus oposisi, anggota partai Arab-Yahudi Hadash, yang dikenal vokal dan berani menyuarakan isu kemanusiaan.
Namun, keberaniannya kali ini dibalas dengan pengusiran paksa. Ayman ditarik keluar dari podium oleh petugas keamanan setelah menyampaikan pernyataan keras terkait konflik Israel-Palestina yang berkecamuk sejak lebih dari setahun terakhir.
Aksi itu bukan hanya menjadi perhatian dalam negeri, tapi juga menggemparkan publik internasional, seperti diberitakan oleh DW News dan The Guardian. Dalam pidatonya yang memicu kontroversi itu, Ayman tak menahan diri.
“Hal lain yang ingin saya katakan, Anda tidak tahu betapa lemahnya Anda. Anda adalah orang-orang yang lemah. Sangat, sangat lemah,”ujarnya di hadapan parlemen yang langsung gaduh.
Ia tak sekadar menyebut kelemahan politik rekan-rekannya, melainkan juga menyuarakan jeritan rakyat Gaza yang menurutnya telah lama diabaikan. Dengan nada penuh emosi, Ayman menyampaikan data yang mengejutkan dan menyakitkan.
“Setelah satu setengah tahun perang di mana Anda membunuh 19.000 anak-anak. 53.000 penduduk. Anda menghancurkan semua universitas, dan rumah sakit, Anda merasa tidak ada kemenangan politik, itulah sebabnya Anda menjadi gila,”tegasnya.
Pernyataan itu menjadi klimaks. Tak lama berselang, petugas keamanan parlemen naik ke podium dan menarik Ayman keluar secara paksa. Aksi itu tak pelak memicu perdebatan soal kebebasan berpendapat di dalam parlemen, terutama saat menyangkut isu-isu sensitif seperti Palestina.
Melalui akun media sosial X miliknya, Ayman mengungkapkan bahwa pengusiran itu bukan karena pelanggaran aturan, melainkan karena ia mengungkapkan kebenaran.
“Mereka menyeret saya keluar dari podium Parlemen, bukan karena melanggar aturan, tetapi karena mengatakan kebenaran,” tulisnya.
Lebih lanjut, Ayman mengaitkan situasi di Gaza dengan tragedi bersejarah Nakba peristiwa pengusiran massal warga Palestina pada 1948. Ia menyebut bahwa apa yang terjadi saat ini adalah bentuk “Nakba kedua.”
“Tujuh puluh tujuh tahun setelah Nakba, dunia menyaksikan Nakba kedua terjadi di Gaza,”lanjutnya.
Meski suaranya sempat dibungkam di ruang parlemen, Ayman tak menunjukkan tanda menyerah. Ia menegaskan bahwa perjuangannya bukan hanya milik pribadi, melainkan bagian dari suara kolektif rakyat Palestina.
“Kalian bisa mencoba membungkam saya, tapi kalian tidak bisa membungkam rakyat Palestina, dan kalian tidak bisa membungkam seruan dunia,”ucapnya penuh keyakinan.***














