5 Ciri dan Penyebab Bayi BBLR vs Prematur, Simak Bedanya!

0
Bayi

NARASITODAY.COM – Bayi yang lahir dengan kondisi khusus seperti Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan prematur sering kali disamakan oleh masyarakat awam. Meskipun kedua kondisi ini memang kerap terjadi secara bersamaan, penting untuk diketahui bahwa BBLR dan prematur merupakan dua kondisi medis yang berbeda. Perbedaan ini bukan hanya terletak pada istilahnya, melainkan juga pada faktor penyebab, ciri-ciri fisik, risiko kesehatan, hingga penanganan medis yang diperlukan.

Bagi para orang tua khususnya yang baru menyambut kelahiran buah hati memahami perbedaan ini sangatlah penting agar dapat memberikan perawatan yang tepat sejak dini. Berikut adalah lima poin utama yang membedakan bayi BBLR dan bayi prematur, lengkap dengan penjelasan menyeluruh.

1. Definisi Medis dan Parameter Berat Badan

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan bobot tubuh kurang dari 2.500 gram (2,5 kg), tanpa memperhitungkan usia kehamilan saat lahir. Artinya, BBLR bisa terjadi baik pada bayi yang lahir cukup bulan (usia kehamilan ≥ 37 minggu) maupun yang lahir sebelum waktunya.

Sementara itu, bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu, terlepas dari berat badannya. Prematuritas terjadi karena proses persalinan terjadi terlalu cepat, sebelum organ-organ tubuh bayi berkembang secara optimal. Biasanya, bayi prematur juga memiliki berat badan rendah, namun tidak semua bayi prematur tergolong BBLR jika beratnya cukup sesuai usia kehamilan.

Baca Juga :  Kekerasan Meluas, Lima Warga Gaza Tewas Termasuk Bayi di Tengah Risiko Keruntuhan Gencatan Senjata

2. Ciri Fisik dan Penampilan Bayi

Meskipun secara kasat mata keduanya sama-sama terlihat mungil, terdapat beberapa perbedaan karakteristik fisik antara bayi BBLR dan prematur:

  • Bayi BBLR umumnya tampak sangat kecil dan kurus, dengan perbandingan kepala dan tubuh yang tidak seimbang (kepala terlihat lebih besar). Kulitnya bisa tampak keriput, dan sedikit atau bahkan tidak memiliki lemak subkutan (lapisan lemak di bawah kulit).

  • Bayi prematur, selain kecil dan ringan, sering kali memiliki wajah tirus, dengan kulit yang tipis dan kemerahan. Mereka juga biasanya memiliki lanugo (rambut halus tipis yang menyelimuti tubuh), kuku dan telinga yang belum berkembang sempurna, serta refleks mengisap dan menelan yang belum optimal.

Perbedaan ini penting untuk diperhatikan karena akan berpengaruh pada cara penanganan dan perawatan pascakelahiran.

3. Penyebab yang Mendasari

Penyebab bayi lahir dengan BBLR atau prematur sangat beragam dan bisa berasal dari faktor ibu, janin, atau lingkungan.

  • Penyebab BBLR lebih sering dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan intrauterin (IUGR), di mana janin tidak tumbuh sebagaimana mestinya selama dalam kandungan. Faktor-faktor seperti anemia pada ibu, hipertensi kehamilan, malnutrisi, infeksi dalam kehamilan, serta kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol dapat menyebabkan gangguan ini.

  • Kelahiran prematur, di sisi lain, biasanya dipicu oleh kondisi medis yang memicu kontraksi atau pembukaan serviks sebelum waktunya, seperti infeksi, ketuban pecah dini, kelainan anatomi rahim, kehamilan ganda (kembar), serta riwayat persalinan prematur sebelumnya. Tekanan emosional yang tinggi dan beban kerja fisik berlebihan juga dapat meningkatkan risiko kelahiran dini.

Baca Juga :  Tega, Seorang Ibu Buang Anaknya di Warung Kopi 

Mengetahui penyebab ini sangat penting untuk pencegahan kehamilan risiko tinggi dan perawatan antenatal yang lebih optimal.

4. Risiko Kesehatan dan Komplikasi

Kedua kondisi ini meningkatkan risiko komplikasi, tetapi bayi prematur umumnya memiliki risiko yang lebih tinggi karena organ-organ tubuhnya belum berkembang sempurna saat lahir.

  • Bayi BBLR lebih rentan mengalami hipotermia, hipoglikemia (gula darah rendah), serta kesulitan makan dan kenaikan berat badan lambat. Namun jika organ vitalnya berkembang dengan baik dan usia kehamilan mencukupi, prognosisnya bisa cukup baik.

  • Bayi prematur berisiko mengalami sindrom gangguan pernapasan (RDS), infeksi berat, masalah pada jantung dan sistem pencernaan, serta gangguan neurologis. Refleks mengisap dan menelan yang belum sempurna juga membuat mereka kesulitan menyusu langsung dari ibu, sehingga membutuhkan bantuan seperti feeding tube.

Baca Juga :  Korban Bencana Sumatera–Aceh Masih Diliputi Trauma, Pemulihan Psikologis Jadi Prioritas

Semakin dini usia kelahiran prematur, semakin tinggi risiko komplikasi jangka pendek dan panjang, termasuk keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif.

5. Penanganan Medis dan Perawatan Intensif

Baik bayi BBLR maupun prematur sering kali memerlukan perawatan intensif di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) untuk stabilisasi suhu, pernapasan, dan pemantauan tumbuh kembang. Namun penanganannya akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

  • Untuk bayi BBLR, fokus utama adalah pada penambahan berat badan secara stabil, pemantauan suhu tubuh, dan pemberian nutrisi yang tepat, baik melalui ASI, susu formula khusus, atau kombinasi keduanya.

  • Untuk bayi prematur, perawatan lebih kompleks dan bisa mencakup alat bantu pernapasan, inkubator, cairan infus, terapi fototerapi untuk mengatasi jaundice, serta pemantauan ketat terhadap fungsi organ. Pemberian ASI tetap menjadi prioritas utama karena kaya akan antibodi dan zat gizi penting yang mendukung imunitas dan pertumbuhan.

Pendekatan multidisipliner yang melibatkan dokter anak, perawat NICU, ahli gizi, serta konselor laktasi sangat diperlukan agar bayi mendapatkan perawatan holistik.***