Kekerasan Meluas, Lima Warga Gaza Tewas Termasuk Bayi di Tengah Risiko Keruntuhan Gencatan Senjata

0
Gaza
Ilustrasi bendera Qatar. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JALUR GAZA – Kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik skala besar di Jalur Gaza memuncak setelah serangan udara Israel kembali mengguncang wilayah tersebut pada Kamis (20/11/2025) waktu setempat, menewaskan lima orang warga sipil. Insiden mematikan ini memicu alarm bahwa gencatan senjata yang telah berlangsung berbulan-bulan dengan Hamas berada di ambang keruntuhan.

Serangan pagi hari itu terjadi di timur Khan Yunis, menewaskan lima warga sipil. Mahmud Bassal, juru bicara pertahanan sipil Gaza, mengonfirmasi kabar duka tersebut. Rumah Sakit Nasser memastikan bahwa tiga korban berasal dari satu keluarga, termasuk seorang bayi perempuan yang baru berusia satu tahun.

Suasana duka mendalam menyelimuti para korban selamat, mencerminkan ketidakpastian yang terus menghantui warga Gaza meskipun gencatan senjata telah berjalan.

Baca Juga :  Mr. Jarwo Ungkap Cerita Dibalik Kolaborasi dengan The Group Band dalam Lagu Terbaru

“Kami tidur nyenyak… kami damai dan tidak menginginkan perang,” kata Sabri Abu Sabt, yang kehilangan putra dan cucunya dalam serangan tersebut.

“Setiap hari ada martir. Kapan kami akan menemukan kelegaan? Apakah kami tidak berhak hidup?,” ujar Tala Abu al-Ala, yang kehilangan saudara perempuannya, bertanya lirih.

Sentuhan feature dalam liputan ini semakin kuat saat menyoroti dampak psikologis jangka panjang.

“Kami khawatir perang akan kembali,” ujar Lina Kuraz, warga Kota Gaza.

“Tidak ada yang benar-benar berubah,” kata Mohammed Hamdouna, yang kini tinggal di tenda, di tengah kota yang masih berupa puing dan kebutuhan dasar tetap langka.

Serangan pada hari Rabu sebelumnya bahkan lebih mematikan, menewaskan 14 orang di Kota Gaza dan 13 orang di Khan Yunis. Dalam adegan yang memilukan, Ahlam Halas menggendong keponakannya yang berusia empat bulan yang tewas dalam serangan tersebut. “Dia bahkan belum sempat merayakan kelahirannya,” kata Halas.

Baca Juga :  Konflik Israel-Hamas Memanas, Kapal Bantuan dengan Greta Thunberg Ditahan di Laut

Sebagai mediator utama dalam konflik ini, Qatar segera mengecam keras aksi terbaru Israel. Doha menyebut tindakan ini sebagai “eskalasi berbahaya yang mengancam akan merusak perjanjian gencatan senjata”.

Meskipun gencatan senjata berlaku, serangan Israel terhadap apa yang disebutnya sebagai target Hamas terus dilakukan. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa total lebih dari 312 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober. Israel juga menyerang posisi Hizbullah di Lebanon, meskipun gencatan di wilayah itu sudah berlangsung hampir setahun.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Resmi Sesuaikan Harga BBM Non Subsidi Mulai 1 Juni 2026

Menanggapi kecaman tersebut, juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, menuding Hamas terus melanggar gencatan.

Israel membuat keputusan secara independen untuk melakukan serangan udara ini,” katanya, seraya seorang pejabat AS lainnya mengonfirmasi bahwa Washington telah diberitahu sebelumnya mengenai operasi tersebut.

Konflik ini kembali memanas sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.221 orang di Israel. Serangan balasan Israel telah menewaskan sedikitnya 69.546 warga Gaza, menurut data yang dianggap kredibel oleh PBB.

Meskipun tensi kembali meningkat, analis Eran Ortal menilai potensi perang besar dalam waktu dekat tetap rendah karena Israel saat ini berada di bawah tekanan internasional yang kuat untuk menjaga gencatan senjata tetap berlaku.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com