NARASITODAY.COM – Kanker kepala dan leher merupakan salah satu jenis kanker yang sering kali luput dari perhatian banyak orang karena gejalanya yang samar dan tidak spesifik pada tahap awal. Kanker ini mencakup berbagai jenis kanker yang muncul di area mulut, tenggorokan, hidung, sinus, laring, dan bagian atas kerongkongan.
Meski tidak sepopuler kanker paru-paru atau payudara, kanker kepala dan leher menyumbang sekitar 4% dari semua kasus kanker di dunia menurut data World Health Organization (WHO).
Yang membuat kanker ini berbahaya adalah fakta bahwa banyak faktor pemicunya berasal dari kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele. Tanpa disadari, gaya hidup tertentu bisa merusak jaringan-jaringan penting di area kepala dan leher, memicu mutasi sel, hingga akhirnya berkembang menjadi kanker.
Berikut adalah lima kebiasaan utama yang terbukti meningkatkan risiko kanker kepala dan leher. Mengenali dan menghentikannya sedini mungkin dapat membantu menurunkan risiko secara signifikan.
1. Merokok
Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko nomor satu dalam perkembangan kanker kepala dan leher. Asap rokok mengandung lebih dari 70 zat karsinogenik, seperti tar, formaldehid, dan benzena, yang dapat merusak DNA dalam sel-sel epitel di area mulut, tenggorokan, dan saluran pernapasan bagian atas.
Paparan kronis terhadap zat beracun ini memicu perubahan genetik yang akhirnya membuat sel berkembang secara tidak terkendali menjadi kanker. Bahkan, menurut National Cancer Institute (NCI), sekitar 85% pasien kanker kepala dan leher memiliki riwayat merokok aktif atau pasif.
Lebih mengkhawatirkan lagi, efek dari rokok tidak hanya berhenti saat kebiasaan dihentikan. Risiko kanker kepala dan leher tetap lebih tinggi pada mantan perokok dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok, meski tetap menurun seiring waktu.
2. Konsumsi Alkohol Berlebihan
Minuman beralkohol, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka panjang, juga merupakan penyebab utama kanker di area kepala dan leher. Alkohol bekerja dengan merusak lapisan mukosa dan membuat jaringan lebih rentan terhadap zat berbahaya lainnya, termasuk karsinogen dari rokok.
Kombinasi alkohol dan tembakau sangat mematikan. Studi menunjukkan bahwa orang yang merokok dan juga minum alkohol berat memiliki risiko kanker kepala dan leher yang hingga 100 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak melakukan keduanya.
Selain itu, alkohol meningkatkan produksi asetaldehida, senyawa beracun hasil metabolisme etanol yang dikenal sebagai karsinogen kuat yang merusak DNA sel.
3. Paparan Sinar Matahari Berlebihan
Bagi orang yang sering bekerja di luar ruangan, seperti petani, nelayan, dan pekerja konstruksi, risiko terkena kanker kulit di area wajah dan bibir jauh lebih tinggi karena paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari. Radiasi UV dapat merusak DNA pada sel kulit dan memicu mutasi yang mengarah ke kanker kulit, seperti karsinoma sel skuamosa dan basal.
Kanker pada bibir bawah, misalnya, telah dikaitkan secara langsung dengan paparan sinar matahari kronis. Tidak hanya menyebabkan kulit terbakar, paparan ini juga melemahkan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam memperbaiki kerusakan DNA akibat UV.
Menggunakan pelindung seperti topi bertepi lebar, tabir surya dengan SPF tinggi, dan menghindari sinar matahari pada pukul 10.00–14.00 merupakan langkah sederhana namun penting untuk pencegahan.
4. Kebersihan Mulut yang Buruk
Banyak orang meremehkan pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut. Padahal, kebiasaan seperti jarang menyikat gigi, tidak pernah membersihkan karang gigi, atau membiarkan infeksi gusi bisa membuka pintu bagi pertumbuhan sel abnormal yang berpotensi menjadi kanker.
Infeksi kronis, peradangan, dan luka yang tidak sembuh-sembuh di rongga mulut menjadi lahan subur bagi mutasi sel. Selain itu, kebersihan mulut yang buruk juga bisa meningkatkan risiko infeksi virus HPV (Human Papillomavirus), yang kini diketahui menjadi penyebab utama kanker orofaring (bagian tengah tenggorokan).
Dokter gigi menyarankan agar seseorang menyikat gigi dua kali sehari, rutin melakukan pemeriksaan mulut, dan menghindari makanan serta minuman yang terlalu panas atau mengiritasi jaringan mulut.
5. Paparan Zat Kimia Berbahaya
Paparan jangka panjang terhadap zat kimia beracun di lingkungan kerja juga dapat meningkatkan risiko kanker kepala dan leher. Beberapa bahan berbahaya yang sudah dikaitkan dengan peningkatan risiko ini antara lain asbes, formaldehid, debu kayu, dan asap logam.
Pekerja industri seperti tukang kayu, buruh pabrik, tukang las, serta pekerja di pabrik tekstil dan bahan kimia sangat rentan terhadap paparan ini. Paparan tersebut bisa masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan atau kulit, kemudian menimbulkan kerusakan sel secara bertahap.
Penggunaan alat pelindung diri (APD), ventilasi kerja yang baik, serta kebijakan pengawasan lingkungan kerja yang ketat sangat diperlukan untuk mencegah kanker akibat paparan zat berbahaya ini.
Meski kanker kepala dan leher termasuk jenis kanker yang berbahaya, banyak kasus sebenarnya bisa dicegah dengan perubahan gaya hidup. Menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol, menjaga kebersihan mulut, membatasi paparan sinar matahari, dan melindungi diri dari zat berbahaya dapat secara signifikan mengurangi risiko.
Deteksi dini juga sangat penting. Masyarakat perlu waspada terhadap gejala awal seperti luka di mulut yang tak kunjung sembuh, suara serak berkepanjangan, benjolan di leher, atau kesulitan menelan. Jika gejala tersebut muncul, segera periksa ke dokter spesialis THT atau onkologi.
Ingatlah, kanker bukan hanya soal nasib. Banyak hal yang bisa kita kendalikan mulai dari sekarang termasuk menghentikan kebiasaan yang diam-diam merusak tubuh kita.***













