Radar Salah Deteksi, Pesawat Sipil Iran Hancur di Udara oleh Kapal Perang AS

0
Ilustrasi Iran Air

NARASITODAY.COM – Pada 3 Juli 1988, kapal perang Amerika Serikat, USS Vincennes, mencatat sebuah titik di radar saat beroperasi di tengah Selat Hormuz. Titik tersebut dianggap sebagai pesawat jet tempur musuh oleh Kapten William C. Rogers III yang memimpin kapal, dan tanpa ragu, ia memerintahkan penembakan.

Kejadian tersebut terjadi dalam konteks konflik regional Iran-Irak yang sedang memanas sejak 1980. Meski tidak terlibat langsung dalam perang, AS memberikan dukungan ke Irak, termasuk pengerahan kapal perang ke kawasan strategis seperti Selat Hormuz. USS Vincennes adalah salah satu kapal yang dikirim dengan instruksi tegas untuk menghadapi ancaman dari Iran.

Pada pukul 10.17 waktu setempat, radar kapal menunjukkan keberadaan pesawat yang dianggap sebagai jet tempur F-14 milik Iran. Berdasarkan gerakannya yang cepat, Kapten Rogers mengira itu merupakan ancaman. Tanpa verifikasi lanjutan, pukul 10.24 rudal ditembakkan, menghantam sasaran di udara. Langit seketika memerah, dan lautan dipenuhi puing-puing.

Baca Juga :  Bupati Bogor Bersama Forkopimda Pastikan Perayaan Natal Dan Akhir Tahun Aman dan Tertib

Namun kemudian diketahui, target yang dihancurkan bukan pesawat tempur, melainkan pesawat komersial Iran Air Penerbangan 655, jenis Airbus A300, yang sedang melayani rute Teheran–Dubai. Seluruh 290 orang di dalam pesawat tewas.

Kepanikan pun terjadi di Bandara Internasional Abbas setelah kontak dengan pesawat hilang. Padahal, cuaca saat itu baik dan pesawat dinyatakan laik terbang.

Laporan menyebut bahwa pesawat tersebut berada dalam jalur sipil resmi, bukan zona militer. Dalam artikel Sea of Lies yang dimuat oleh Newsweek pada 1993, disebutkan bahwa Iran Air 655 mengikuti jalur yang telah ditentukan dan tidak menunjukkan gelagat mengancam.

Baca Juga :  Antrean Panjang di Pelabuhan dan Suara Mesin Kapal Mengisi Suasana Liburan Natal 2025

Tragedi ini memicu kemarahan publik dan pemerintah Iran. Mereka menuding militer AS melakukan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Pemerintah AS semula menolak tuduhan tersebut.

Menurut laporan Washington Post pada 4 Juli 1988, Pentagon saat itu masih bersikukuh bahwa yang mereka tembak adalah pesawat militer. Namun, kemudian mereka mengakui kesalahan.

“Pemerintah AS sangat menyesalkan insiden ini,” ujar Laksamana William J. Crowe Jr., Ketua Kepala Staf Gabungan dalam konferensi pers di Pentagon. Pernyataan tersebut mencerminkan penyesalan, namun bukan permintaan maaf resmi.

Presiden AS saat itu, Ronald Reagan, membela tindakan anak buahnya. Ia menyatakan bahwa USS Vincennes telah berupaya menghubungi pilot pesawat Iran Air 655 namun tidak mendapat respons. Reagan menyebut penembakan dilakukan dalam rangka mempertahankan diri.

AS juga menyalahkan situasi konflik yang dipicu oleh Iran sebagai latar belakang insiden tragis ini. Menurut analisis Pierre Razoux dalam The Iran-Iraq War (2016), kebijakan Iran yang terus melanjutkan konflik dinilai memaksa AS untuk menempatkan armada militernya di Selat Hormuz, dan karenanya AS menilai insiden ini sebagai konsekuensi logis dari eskalasi tersebut.

Baca Juga :  Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Syaratkan Selat Hormuz Harus Bersih

Namun, banyak pihak menilai penjelasan itu tidak masuk akal. Pesawat Airbus A300 secara fisik jauh lebih besar daripada jet tempur, sehingga mustahil keliru dikenali oleh radar berteknologi tinggi milik kapal perang AS.

Kasus ini akhirnya dibawa ke Mahkamah Internasional dan pada 1992, diputuskan bahwa AS wajib membayar ganti rugi sebesar US$ 61,8 juta kepada keluarga korban. Sebagai bagian dari kesepakatan penyelesaian, AS secara hukum tidak diakui sebagai pihak yang bersalah.***