NARASITODAY.COM – Sebanyak 22 orang meninggal dunia dan 63 lainnya mengalami luka-luka setelah seorang pelaku bom bunuh diri menyerang Gereja Ortodoks Yunani di pinggiran Kota Damaskus, Suriah, pada Minggu (22/6/2025).
Menurut laporan dari media pemerintah SANA, pelaku memasuki Gereja Mar Elias di kawasan Dweil’a saat jemaat tengah melaksanakan Liturgi Ilahi, sebuah ibadah khas Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Timur. Pelaku kemudian menembakkan senjata ke arah jemaat sebelum meledakkan diri dengan mengenakan rompi berisi bahan peledak.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, Noureddine Al-Baba, menyatakan dalam konferensi pers, “Seorang pria bersenjata masuk ke dalam gereja dan menembaki orang-orang sebelum meledakkan dirinya. Ini adalah serangan pengecut terhadap tempat ibadah,” seperti dikutip dari Associated Press (AP News), Senin (23/6/2025).
Al-Baba juga menambahkan bahwa bukti awal mengarah pada kelompok ekstremis ISIS sebagai pelaku serangan tersebut.
Kementerian Kesehatan Suriah mengonfirmasi jumlah korban tewas, sementara Syrian Observatory for Human Rights, sebuah lembaga pemantau konflik yang berbasis di Inggris, melaporkan sedikitnya 19 korban meninggal dan puluhan lainnya luka-luka, meskipun tanpa angka pasti. Beberapa media lokal juga menyebutkan bahwa anak-anak termasuk di antara para korban.
Serangan ini menjadi yang pertama menargetkan gereja Kristen dalam beberapa tahun terakhir di Suriah, yang kini dikuasai oleh pemerintahan Islamis secara de facto.
Al-Baba menegaskan, “Keamanan tempat ibadah adalah garis merah,” dan menuding kelompok sisa ISIS serta faksi yang loyal kepada rezim Assad yang telah digulingkan sebagai pihak yang berupaya menciptakan kekacauan.
Saksi mata menggambarkan suasana yang sangat menegangkan. Pastor Fadi Ghattas, yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, mengatakan, “Pria bersenjata itu mengenakan penutup wajah dan menembaki jemaat. Ketika beberapa orang mencoba menghalaunya, dia meledakkan diri di pintu masuk gereja.” Ia menambahkan, “Saat itu ada sekitar 350 jemaat yang sedang berdoa,” dan melihat sedikitnya 20 jenazah.
Pendeta Meletius Shahati juga menyebutkan adanya pelaku kedua yang menembaki pintu gereja, yang memperparah kepanikan di dalam.
Seorang jemaat bernama Issam Nasr menceritakan pengalaman mengerikannya, “Saya melihat orang-orang terbakar berkeping-keping. Kami hanya membawa doa-doa kami, bukan senjata.”
Setelah ledakan, pasukan keamanan dan tim medis segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Foto-foto yang dirilis oleh SANA memperlihatkan kondisi gereja yang hancur, dengan bangku-bangku berlumuran darah dan puing-puing berserakan di mana-mana.***














