5 Kriteria Utama Donor Darah dan Larangan Agar Proses Donor Aman

0
Ilustrasi Donor Darah

NARASITODAY.COM – Donor darah sering kali dianggap sebagai salah satu bentuk pengabdian kemanusiaan yang paling sederhana namun berdampak besar. Setetes darah yang didonorkan bisa menjadi harapan hidup bagi pasien yang membutuhkan transfusi, seperti korban kecelakaan, pasien operasi besar, penderita anemia berat, atau pasien yang menjalani kemoterapi. Meski demikian, proses donor darah tidak bisa dilakukan sembarangan.

Untuk memastikan darah yang disumbangkan aman bagi penerima dan tidak membahayakan kesehatan pendonor, ada sejumlah syarat dan ketentuan medis yang harus dipenuhi oleh setiap calon pendonor.

Syarat ini telah ditetapkan oleh lembaga kesehatan seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dan organisasi kesehatan dunia (WHO) sebagai standar global dalam praktik transfusi darah yang bertanggung jawab.

Berikut ini adalah lima syarat utama yang wajib diperhatikan oleh siapa pun yang ingin melakukan donor darah:

1. Kondisi Fisik dan Mental dalam Keadaan Sehat

Sebelum mendonorkan darah, seseorang harus dipastikan tidak sedang sakit, baik secara fisik maupun mental. Pendonor tidak boleh memiliki penyakit menular seperti TBC, hepatitis B atau C, sifilis, dan terutama HIV/AIDS, karena risiko penularan melalui darah sangat tinggi.

Selain itu, mereka yang sedang mengalami demam, flu berat, infeksi aktif, atau sedang mengonsumsi antibiotik juga sebaiknya menunda niat mendonorkan darah sampai benar-benar pulih.

Kesehatan mental juga menjadi pertimbangan penting, karena kondisi emosional yang tidak stabil, seperti kecemasan ekstrem atau stres berat, bisa mempengaruhi kestabilan fisik saat proses donor berlangsung. Oleh karena itu, pemeriksaan singkat oleh petugas medis sebelum donor sangat diperlukan untuk memastikan kelayakan secara menyeluruh.

Baca Juga :  Pekerja Kantoran Wajib Baca! 5 Kebiasaan Harian yang Tanpa Sadar Merusak Pembuluh Darah

2. Usia dan Berat Badan Memenuhi Batas Minimum

Calon pendonor harus berada dalam rentang usia 17 hingga 60 tahun. Mereka yang baru pertama kali mendonorkan darah sebaiknya tidak melebihi usia 60 tahun, namun bagi yang sudah rutin mendonor dan kondisi tubuhnya tetap sehat, batas atas dapat diperpanjang hingga usia 65 tahun sesuai rekomendasi tenaga medis.

Dari sisi berat badan, standar minimal adalah 45 kilogram. Berat badan yang memadai penting untuk menghindari risiko pingsan, lemas, atau komplikasi ringan lainnya setelah donor. Orang dengan berat badan kurang berisiko kehilangan proporsi darah yang terlalu besar terhadap massa tubuhnya, yang dapat memengaruhi tekanan darah atau kadar oksigen.

3. Tekanan Darah dan Suhu Tubuh dalam Kisaran Normal

Sebelum mendonor, tekanan darah calon pendonor harus diperiksa dan berada dalam rentang yang dianggap aman, yaitu:

  • Tekanan sistolik: antara 100–160 mmHg

  • Tekanan diastolik: antara 70–100 mmHg

Selain itu, suhu tubuh harus normal, yakni antara 36,6 hingga 37,5 derajat Celsius. Jika terlalu tinggi, bisa jadi pendonor sedang mengalami infeksi; jika terlalu rendah, bisa menjadi tanda kelelahan atau gangguan metabolik. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan tubuh dalam kondisi stabil sebelum kehilangan sekitar 350-450 ml darah dalam satu sesi donor.

4. Kadar Hemoglobin (Hb) yang Cukup

Kadar hemoglobin yang cukup sangat penting agar darah yang disumbangkan memiliki kualitas yang baik dan tidak membahayakan pendonor. Hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, sehingga jika kadarnya rendah, pendonor bisa mengalami gejala anemia seperti pusing, lemas, atau sesak napas setelah donor.

Batas minimal hemoglobin adalah:

  • 12 gr/dl untuk wanita
  • 12,5 gr/dl untuk pria

Pemeriksaan Hb biasanya dilakukan dengan cepat melalui tes darah kecil di jari tangan sebelum proses donor dimulai.

5. Memenuhi Jarak Waktu Ideal Antar Donor

Donor darah tidak bisa dilakukan terlalu sering. Idealnya, seseorang hanya boleh mendonor setiap tiga bulan sekali untuk donor darah penuh. Artinya, maksimal lima kali dalam setahun. Jeda ini memberi waktu bagi tubuh untuk memproduksi kembali sel darah merah yang hilang dan menjaga keseimbangan metabolik tubuh.

Pendonor juga harus memastikan bahwa jeda ini telah terpenuhi sebelum mendonorkan darah kembali, agar tidak membahayakan kesehatannya sendiri.

Syarat Tambahan dan Hal yang Perlu Dihindari Sebelum Donor Darah

Selain lima syarat utama di atas, ada juga sejumlah kondisi yang membuat seseorang tidak boleh melakukan donor darah sementara waktu atau bahkan secara permanen. Beberapa di antaranya:

  • Sedang hamil atau menyusui
  • Baru saja menjalani operasi besar atau prosedur medis invasif
  • Memiliki riwayat transfusi darah dalam 1 tahun terakhir
  • Baru menerima vaksin tertentu (seperti vaksin COVID-19 atau demam berdarah, yang memerlukan jeda waktu sebelum donor)

  • Memiliki tato atau tindik baru (harus menunggu minimal 6 bulan)

  • Sedang menggunakan obat tertentu yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh atau darah
  • Mengidap penyakit menular kronis seperti hepatitis B, C, atau HIV/AIDS

Selain itu, sebelum mendonorkan darah, pendonor disarankan tidak begadang, tidak merokok setidaknya 2 jam sebelum dan sesudah donor, dan mengonsumsi makanan bergizi, terutama yang kaya zat besi seperti daging merah, bayam, atau kacang-kacangan.

Mendonor darah bukan hanya tentang memberikan sesuatu untuk orang lain, tapi juga menjadi bagian dari sistem yang menyelamatkan nyawa setiap harinya. Namun seperti halnya tindakan medis lainnya, donor darah harus dilakukan dengan persiapan yang matang dan memenuhi standar keamanan.

Memastikan bahwa diri sendiri memenuhi syarat bukan hanya bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan pribadi, tapi juga bentuk penghormatan kepada penerima darah yang membutuhkan darah yang sehat dan berkualitas.***

Baca Juga :  Mengecat Rumah? Hindari 5 Kesalahan Ini agar Hasilnya Rapi dan Awet