Setelah Lari Paha Sakit? Ketahui 5 Penyebab Umumnya

0
Ilustrasi Lari

NARASITODAY.COM – Rasa nyeri atau pegal pada paha setelah melakukan aktivitas lari merupakan hal yang cukup umum, terutama bagi individu yang baru memulai rutinitas olahraga atau yang meningkatkan intensitas latihan secara mendadak.

Meski sering dianggap sepele, nyeri ini bisa menjadi tanda bahwa otot sedang mengalami tekanan atau bahkan cedera ringan. Memahami penyebabnya secara lebih mendalam akan membantu dalam menentukan langkah penanganan maupun pencegahan yang efektif.

Berikut lima penyebab utama kenapa paha bisa terasa sakit setelah berlari:

  1. Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) atau Nyeri Otot yang Datang Terlambat

Salah satu penyebab paling umum dari nyeri paha usai berlari adalah DOMS, yaitu kondisi di mana otot mengalami nyeri dan kaku dalam waktu 24 hingga 72 jam setelah aktivitas fisik, khususnya yang melibatkan gerakan eksentrik yakni ketika otot memanjang sambil menahan beban. Pada pelari, hal ini sering terjadi saat mencoba medan baru, menambah jarak tempuh, atau meningkatkan kecepatan.

DOMS disebabkan oleh robekan kecil (mikroskopis) pada serat otot, yang kemudian merangsang peradangan ringan sebagai bagian dari proses adaptasi tubuh terhadap latihan. Meski terasa tidak nyaman, kondisi ini bersifat sementara dan menunjukkan bahwa tubuh sedang membentuk otot yang lebih kuat.

  1. Ketegangan atau Tarikan Otot (Muscle Strain)
Baca Juga :  Menpora Dorong Berkuda Indonesia Tembus Olimpiade, Fokus Kembangkan Industri dan Sportainment

Jika nyeri pada paha terasa lebih tajam atau disertai keterbatasan gerak, bisa jadi Anda mengalami muscle strain, yakni cedera ringan hingga sedang pada otot paha, baik bagian depan (quadriceps) maupun belakang (hamstring). Cedera ini umumnya terjadi akibat pemanasan yang tidak cukup, gerakan eksplosif saat berlari, atau terlalu cepat meningkatkan durasi maupun intensitas lari.

Dalam kasus ringan, istirahat dan kompres dingin sudah cukup membantu penyembuhan. Namun pada strain yang lebih berat, perlu dilakukan fisioterapi dan evaluasi oleh tenaga medis profesional agar tidak berkembang menjadi cedera kronis.

  1. Penumpukan Asam Laktat pada Otot

Aktivitas fisik yang intens seperti berlari dapat memicu produksi asam laktat di dalam otot. Asam laktat adalah hasil samping metabolisme energi anaerobik, dan ketika menumpuk dalam jumlah banyak, dapat menyebabkan rasa terbakar atau pegal di area paha.

Baca Juga :  Siapkan Kameramu! 5 Destinasi Ikonik di Afrika yang Penuh dengan Keajaiban Alam dan Satwa Liar, Termasuk Singa

Biasanya, rasa ini akan berkurang setelah tubuh melakukan pendinginan, peregangan ringan, dan mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Meski tidak berbahaya, penumpukan asam laktat menunjukkan bahwa tubuh Anda memerlukan fase pemulihan yang memadai setelah latihan berat.

  1. Cedera pada Pangkal Paha (Groin Strain atau Groin Pain)

Jika nyeri terasa di bagian dalam atau sekitar lipatan paha, bisa jadi Anda mengalami cedera otot pangkal paha atau groin strain. Cedera ini biasanya muncul akibat gerakan menyamping secara tiba-tiba, peregangan otot yang berlebihan, atau tekanan berulang di area paha bagian dalam.

Pelari yang sering melakukan sprint atau manuver tajam berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini. Cedera pangkal paha dapat menyebabkan kesulitan saat berjalan, menaiki tangga, atau bahkan berdiri dalam waktu lama. Jika tidak ditangani dengan baik, nyeri dapat berlangsung lama dan memengaruhi performa olahraga.

  1. Teknik Berlari yang Tidak Tepat

Tanpa disadari, cara berlari yang tidak ergonomis juga bisa menjadi penyebab utama nyeri paha. Misalnya, mendarat dengan bagian depan kaki secara berlebihan, langkah terlalu panjang, atau posisi badan terlalu condong ke depan dapat meningkatkan tekanan pada otot paha, pinggul, dan bahkan tulang kering.

Baca Juga :  Perbaiki Postur Tubuh dengan 5 Olahraga Ini, Yuk Mulai!

Teknik yang salah tidak hanya memperbesar risiko nyeri otot, tetapi juga bisa mengakibatkan cedera jangka panjang seperti shin splints, iliotibial band syndrome (ITBS), atau tendinitis. Untuk itu, penting melakukan evaluasi postur saat berlari, dan bila perlu, berkonsultasi dengan pelatih lari atau fisioterapis olahraga guna memperbaiki teknik dasar.

Nyeri pada paha setelah berlari bisa berasal dari adaptasi otot terhadap beban baru hingga cedera serius yang memerlukan perhatian medis. Oleh karena itu, jangan abaikan sinyal dari tubuh. Lakukan pemanasan dan pendinginan secara rutin, terapkan teknik lari yang benar, serta berikan waktu istirahat yang cukup.

Jika nyeri terus berlanjut atau terasa semakin parah, segera konsultasikan dengan dokter atau ahli terapi fisik agar bisa dilakukan penanganan yang tepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.***