Perempuan di Jasinga Gagas Budidaya Sorgum Mandiri untuk Dukung Ketahanan Pangan

0
Sorgum
Tampak budidaya sorgum secara mandiri di atas lahan seluas 5.000 meter persegi. Foto (Dok : ist)

NARASITODAY.COM, BOGOR – Di tengah keterbatasan alat pertanian modern, seorang warga Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Amelia, berhasil menginisiasi budidaya sorgum secara mandiri di atas lahan seluas 5.000 meter persegi.

Amelia, yang juga aktif di organisasi Markas Pejuang Bogor (MPB), memilih tanaman sorgum karena dinilai memiliki banyak keunggulan dibanding tanaman pangan lainnya. Selain hasil panennya, batang sorgum juga bermanfaat sebagai pakan ternak.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Dorong Pembangunan RS PMI Di Parung Panjang, Perluas Jangkauan Layanan Kesehatan

“Kita memilih sorgum karena banyak kelebihannya. Cukup sekali tanam, tapi bisa panen dua sampai tiga kali. Batangnya juga bisa dijadikan silase atau pakan ternak,” ujar Amelia saat ditemui, Senin (4/8/2025).

Ia mengungkapkan, pembukaan lahan dimulai sejak April 2025. Namun, proses budidaya masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan alat pertanian. “Semua masih manual. Dari membersihkan lahan, menebas ilalang, sampai membajak tanah, kami hanya memakai hand traktor,” jelasnya.

Baca Juga :  170 Personel Diterjunkan Saat Amankan Aksi Unjuk Rasa di Cigudeg

Dukungan terhadap budidaya sorgum juga datang dari pemerintah pusat. Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDTT), Ahmad Riza Patria, menyebut sorgum sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional.

Sorgum adalah cermin kemandirian desa. Melalui budidaya sorgum, kita bukan hanya menanam benih pangan, tetapi juga benih harapan, kedaulatan, dan kemajuan desa,” ujar Riza saat menghadiri peluncuran program Mandiri Sahabat Desa di Jasinga, belum lama ini.

Baca Juga :  Tahun Depan, Samsul Hidayat Targetkan Wilayah Terdampak Bencana Sukajaya Bogor Bisa Masuk Rancangan Pembangunan Pemprov Jabar

Ia menambahkan, pembangunan desa harus dilakukan secara gotong royong melalui kolaborasi octahelix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, komunitas, perbankan, dan dunia usaha.

“Inilah bukti bahwa membangun desa adalah tanggung jawab kolektif bangsa,” pungkasnya.***