
NARASITODAY.COM, BOGOR – Suasana kemerdekaan di Kampung Kopo, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, tahun ini terasa berbeda.
Tepat di hari peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, Minggu (17/8/2025), Padepokan Buana Raksa Budaya Padjajaran merayakan milangkala atau ulang tahun yang ke-11.
Padepokan yang dipimpin oleh Uchu ini dikenal sebagai wadah pelestarian seni bela diri pencak silat. Menurutnya, perjalanan padepokan ini tidaklah mudah.
“Sejak awal, padepokan sudah terbentuk untuk mewadahi pemuda-pemudi berlatih pencak silat. Namun sempat padam, hingga akhirnya kami bangkit kembali di tahun 2014. Waktu itu, baru sekitar 20 orang yang tampil memeriahkan HUT RI, dan dari situlah perjalanan baru dimulai,” tutur Uchu.

Sementara dalam rangkaian milangkala kata dia, anggota padepokan bersama para kasepuhan menggelar ziarah ke makam leluhur atau karuhun.
Ziarah ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan dan permohonan restu agar perjuangan melestarikan pencak silat terus diberkahi.
Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan ngariung, nadar, serta manakib sebagai wujud syukur atas perjalanan 11 tahun padepokan. Doa juga dipanjatkan untuk para karuhun dan para pahlawan kemerdekaan.
“Latihan pencak silat di padepokan ini tidak hanya diikuti warga Desa Malasari. Ada juga peserta dari Sukabumi, Jampang, bahkan anggota yang bekerja di luar daerah rela pulang jika ada acara penting,” jelas Uchu.
Sebagai penutup rangkaian, Padepokan Buana Raksa Budaya Padjajaran menghadirkan hiburan dengan mendatangkan sejumlah artis komedi pemeran sinetron Dunia Terbalik, seperti Pedro atau Ujang Kusnadi, Sape’i, hingga Bos Idan.
Kehadiran mereka membuat suasana milangkala semakin meriah sekaligus menarik minat warga untuk menyaksikan acara padepokan.
Menurut dia, bagi warga Desa Malasari, perayaan ini bukan hanya pesta budaya, melainkan juga bentuk nyata semangat kemerdekaan menjaga warisan leluhur sekaligus merawat persatuan.
“Harapannya, kegiatan ini terus menyala, tidak boleh padam. Kami ingin masyarakat tahu bahwa padepokan bukan sekadar tempat latihan silat, tetapi juga pusat kebudayaan dan kebersamaan,” tutupnya.***
Wartawan : Andreas













