NARASITODAY.COM – Produksi tanaman pangan global, khususnya serealia atau biji-bijian, diperkirakan meningkat sebesar 3% pada periode 2025–2026, mencapai 2,377 miliar ton.
Jagung diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi, sementara produksi gandum dunia diprediksi naik menjadi 811 juta ton, lebih tinggi dibandingkan 800 juta ton pada tahun sebelumnya.
Meski tren produksi menunjukkan peningkatan, para peneliti memperingatkan bahwa perubahan iklim ekstrem berpotensi mengancam hasil panen di berbagai wilayah. Industri biji-bijian global mulai mencermati dampak negatif iklim terhadap produktivitas lahan, di tengah kebutuhan pangan bagi populasi dunia yang kini mencapai 8,2 miliar jiwa.
World Grain melaporkan bahwa analisis University of Illinois menunjukkan produksi pangan global memang meningkat secara konsisten antara 1981 hingga 2022. Namun, di tingkat lokal, perubahan iklim telah menyebabkan penurunan hasil panen secara berkelanjutan.
Presiden sekaligus ahli meteorologi pertanian senior di World Weather, Inc., Drew Lerner, menyatakan bahwa meskipun cuaca ekstrem menimbulkan kerusakan, ia masih optimistis terhadap kemampuan produksi pangan global.
“Saya pikir dengan cuaca ekstrem dan kerusakan yang ditimbulkannya, dengan semua publisitasnya, mudah untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita mungkin tidak dapat menanam cukup banyak tanaman di masa depan, tetapi saya ragu untuk melakukannya,” ujarnya, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (27/8/2025).
“Saya pikir ada tempat-tempat di planet ini yang mungkin tidak bisa berproduksi seperti dulu, tetapi akan ada tempat-tempat lain yang akan lebih baik. Saya pikir, secara keseluruhan, kita masih bisa sukses.”
Studi Universitas Stanford yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkapkan bahwa suhu tinggi dan kekeringan telah menurunkan hasil panen biji-bijian utama seperti gandum, jelai, dan jagung. Penurunan diperkirakan mencapai 4–13% dibandingkan kondisi tanpa tren iklim saat ini.
“Dalam banyak hal, perubahan yang dialami petani sepenuhnya sejalan dengan prediksi model iklim, sehingga dampak keseluruhannya seharusnya tidak mengejutkan,” kata Stefania Di Tommaso, analis riset di Pusat Keamanan Pangan dan Lingkungan (FSE) Stanford.
Studi tersebut juga menyoroti paradoks iklim, di mana peningkatan kadar karbon dioksida dapat memperbesar hasil panen, namun menurunkan kualitas gizi biji-bijian seperti protein dan mikronutrien pada gandum dan beras.
Laboratorium Inovasi Sereal Tahan Iklim (CRCIL) di Kansas State University mencatat perlambatan pertumbuhan produktivitas pertanian global. Direktur sementara CRCIL, Dr. Tim Dalton, menyebutkan:
“Tahun lalu, Laporan Produktivitas Pertanian Global menemukan bahwa produktivitas pertanian hanya meningkat 0,7% per tahun selama 10 tahun terakhir, dan ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia di masa depan.”
Secara umum, tanaman seperti kedelai, beras, dan gandum mendapat manfaat dari “pemupukan karbon”, sementara jagung hanya sedikit terbantu, terutama saat kekeringan.
Lerner menekankan bahwa iklim dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk komposisi atmosfer, aktivitas vulkanik, dan siklus alam seperti El Niño dan La Niña.
“Yang menentukan cuaca kita pada hari tertentu adalah di mana kita berada dalam setiap siklus tersebut dan siklus mana yang memiliki pengaruh paling besar,” katanya. “Pemanasan atmosfer dan pemanasan lautan memiliki banyak implikasi.”
Ia menjelaskan bahwa laut yang lebih hangat meningkatkan penguapan, memicu badai besar dan hujan deras, sehingga hasil panen menjadi semakin sulit diprediksi.
“Jadi, curah hujannya lebih tinggi, suhunya lebih hangat, dan karbon dioksidanya lebih tinggi, dan semua itu akan benar-benar mengendalikan potensi hasil panen di seluruh dunia,” tambahnya.
Dampak nyata telah terlihat. Panen gandum Australia turun 22% pada 2024 akibat kekeringan, Rusia mengalami penurunan hasil dan kadar protein gandum selama dua musim terakhir, dan proyeksi di India menunjukkan peningkatan suhu 2,5°–4,9°C dapat memangkas hasil gandum hingga 52% dan beras hingga 40%.
Laporan Bank Dunia tahun 2019 menyebut Asia Tengah sebagai kawasan paling rentan terhadap perubahan iklim, sementara laporan IPCC memperkirakan pemanasan global 1,5°C dapat mengurangi lahan cocok tanam jagung hingga 40% di Afrika sub-Sahara.
Meski demikian, Lerner menilai adaptasi teknologi dan genetika memungkinkan sebagian petani tetap bertahan. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang tetap mencatat hasil baik meski menghadapi kekeringan.
“Hibridanya telah berubah dan kami, melalui genetika, mampu membuat tanaman ini lebih efisien dalam memanfaatkan curah hujan dan lebih toleran terhadap periode kekeringan,” ujarnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














