Sanae Takaichi Siap Lanjutkan Abenomics dengan Sentuhan Konservatif dan Nasionalis

0
Sanae Takaichi
Politikus konservatif Jepang, Sanae Takaichi. Foto : metrotvnews.com

NARASITODAY.COM, TOKYOSanae Takaichi mencetak kemenangan bersejarah dalam pemilihan pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), mengakhiri dominasi kandidat laki-laki dan membuka jalan baginya untuk menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang. Kemenangan ini juga menandai langkah besar Takaichi dalam mengikuti jejak tokoh inspirasinya, mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher.

Dikenal sebagai “fiscal dove,” kemenangan Takaichi mengejutkan banyak pihak dan diperkirakan akan berdampak pada pasar keuangan, mengingat Jepang masih menghadapi tantangan besar dalam mengelola beban utang nasional. Di sisi lain, sikap nasionalisnya diyakini dapat memperkeruh hubungan dengan Tiongkok, tetangga sekaligus mitra dagang utama Jepang.

Baca Juga :  Golok dan Stik Golf Diamankan Polsek Cibinong Delapan Orang Digiring, Diduga Hendak Tawuran

Perempuan berusia 64 tahun ini sebelumnya kalah dari Shigeru Ishiba dalam pemilihan pemimpin LDP tahun lalu. Namun kali ini, ia berhasil meraih posisi teratas dan akan meminta persetujuan parlemen untuk menggantikan Ishiba sebagai perdana menteri. Meski LDP masih menjadi partai terbesar di parlemen, proses pengangkatan tidak sepenuhnya mulus karena koalisi pemerintah kehilangan mayoritas di kedua kamar setelah serangkaian kekalahan pemilu.

“Daripada merasa bahagia, saya justru merasa pekerjaan sulit baru saja dimulai,” ujar Takaichi dalam pidato kemenangannya di hadapan anggota parlemen LDP.

Takaichi, mantan menteri keamanan ekonomi dan dalam negeri, dikenal dengan pandangan konservatifnya. Ia kerap mengunjungi Kuil Yasukuni yang kontroversial, mendukung revisi konstitusi pascaperang untuk memperkuat peran militer, dan mengusulkan pembentukan “aliansi keamanan semu” dengan Taiwan.

Baca Juga :  Korea Selatan Protes Keras “Takeshima Day” Jepang atas Gugusan Dokdo

Sebagai pengagum kebijakan ekonomi mendiang Shinzo Abe, Takaichi berkomitmen melanjutkan stimulus “Abenomics” dengan mendorong belanja pemerintah, pemotongan pajak, dan menentang kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.

Meski berjanji akan meningkatkan representasi perempuan dalam kabinet, sejumlah pandangannya menuai kritik. Ia menolak pernikahan sesama jenis dan penggunaan nama keluarga terpisah bagi pasangan menikah dua isu yang mendapat dukungan luas dari publik Jepang.

Lahir di Prefektur Nara dari keluarga sederhana, Takaichi tumbuh dengan ibunya yang berprofesi sebagai polisi dan ayahnya yang bekerja di industri otomotif. Ia menempuh pendidikan di Universitas Kobe dan memulai karier politik dengan memenangkan kursi parlemen pada 1993, sebelum bergabung dengan LDP tiga tahun kemudian.

Baca Juga :  Putri Kusuma Wardani Terus Melaju! Tokyo Jadi Saksi Kebangkitan Mental dan Skillnya

Salah satu agenda awalnya sebagai pemimpin LDP adalah menjamu mantan Presiden AS Donald Trump di Tokyo pada akhir bulan ini. Pertemuan tersebut akan membahas ulang kesepakatan dagang yang pernah mengurangi tarif atas barang Jepang selama masa pemerintahan Trump.

Jika disetujui oleh parlemen, Sanae Takaichi akan resmi mencatat sejarah sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Jepang.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber