
NARASITODAY.COM, BOGOR — Sentra industri tas legendaris di Tajur, Bogor, Jawa Barat, kini menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya tas impor berharga murah di pasaran.
Kondisi ini diperparah oleh dampak pandemi COVID-19 dan pergeseran perilaku konsumen ke platform belanja daring. Para pelaku usaha lokal mengaku semakin terpuruk dan meminta pemerintah untuk memperketat masuknya produk tas dari luar negeri.
Supardi, mantan pekerja pabrik tas di Tajur, menyebut bahwa keberadaan tas impor imitasi, khususnya dari China, telah memperburuk kondisi toko dan pabrik lokal. “Selain Covid-19 dan toko online, banyaknya tas China kw bikin yang di sini makin merana, karena kan tas-tas itu merek branded, tapi murah,” ujarnya kepada CNBC Indonesia.
Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai terlalu longgar dalam mengatur masuknya tas impor. “Aneh juga sih sama pemerintah, tas impor gampang banget masuk Indonesia, yang ada kita makin terpuruk,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Rini, karyawan toko tas di Tajur, yang menyebut bahwa tas impor sangat mirip dengan produk asli dan dijual dengan harga jauh lebih murah. “Kadang orang-orang susah bedain mana asli, mana palsu, yang (tas impor) itu, mirip asli, bermerek, harganya lebih murah, wajar kita makin kalah, apalagi kalau itu tas dijual di online macam tiktok shop, yasudah, kelar kita,” ungkapnya.
Rini menambahkan bahwa setelah pandemi, pelanggan tidak kembali seperti dulu, dan kini mereka lebih memilih belanja online. “Kami kena dampaknya cukup parah, setelah Covid-19 pelanggan engga balik ke sini, ditambah orang-orang sudah lebih enak berbelanja di online, eh ini ada tas impor juga,” katanya.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, jumlah toko tas di Jalan Tajur telah menurun drastis. Dari sekitar 40 toko yang aktif hingga tahun 2015, kini hanya tersisa sekitar 10 toko yang masih bertahan. Kawasan yang dulunya ramai oleh wisatawan dan kendaraan kini berubah menjadi sepi, tanpa kemacetan yang dulu menjadi ciri khas akhir pekan di TajurBogor Daily.
Beberapa toko yang masih bertahan antara lain Bogor Tas, Sumber Tas Tajur, SKI Tajur, dan Donatello. Sementara itu, Terminal Tas dan sejumlah toko lainnya seperti Tas Tajur 33, Dunia Tas, dan Pusat Tas Tajur telah tutup. Ruko bekas Terminal Tas kini dikabarkan akan dialihfungsikan menjadi toko mebel.
SKI, salah satu pabrik tas terkenal di Katulampa–Bantar Kemang, yang juga menawarkan fasilitas rekreasi keluarga, masih beroperasi. Namun, banyak pengrajin rumahan di sekitar Tajur kini kesulitan bertahan di tengah gempuran produk impor dan perubahan pola belanja masyarakat.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













