NARASITODAY.COM, MANILA – Biro cuaca Filipina (PAGASA) telah mengeluarkan peringatan tertinggi untuk gelombang badai yang “mengancam jiwa” hingga 5 meter dan angin kencang yang merusak, saat Topan Fung-wong (nama lokal Uwan) bergerak cepat menuju pantai timur negara itu.
Topan ini diperkirakan akan menguat secara drastis menjadi “topan super” sebelum menghantam daratan pada Minggu (9 November) malam.
Peramal cuaca PAGASA, Benison Estareja, dalam sebuah pengarahan, mengatakan sirkulasi masif topan yang membentang sejauh 1.500 km telah mulai menghantam sebagian Filipina timur dengan hujan lebat dan angin kencang.
“Topan ini dapat mencakup hampir seluruh wilayah negara,” kata Estareja.
Saat ini, Fung-wong membawa angin berkelanjutan maksimum 140 km/jam dengan hembusan hingga 170 km/jam. Estareja memperingatkan bahwa kekuatan ini dapat meningkat hingga 185 km/jam saat mendekati daratan cukup kuat untuk menghancurkan rumah serta menumbangkan pohon dan bangunan.
Curah hujan ekstrem hingga 200 mm diperkirakan akan mengguyur provinsi-provinsi di Filipina timur, terutama di wilayah Bicol dan sebagian Samar, yang meningkatkan risiko banjir bandang serta tanah longsor yang meluas.
PAGASA telah mengimbau warga di dataran rendah dan daerah pesisir untuk segera mengungsi ke dataran tinggi dan menghentikan semua aktivitas laut, memperingatkan adanya gelombang badai dahsyat.
Sebagai respons, beberapa pemerintah daerah telah menangguhkan kegiatan belajar mengajar pada hari Senin. Maskapai penerbangan nasional Filipina juga telah membatalkan sejumlah penerbangan.
Di Provinsi Aurora, yang diperkirakan menjadi lokasi pendaratan topan pada Minggu malam atau Senin dini hari, tim penyelamat telah berkeliling dari rumah ke rumah.
“Kami secara preventif mengevakuasi warga di daerah-daerah yang mungkin berisiko tinggi terkena banjir,” kata petugas penyelamat provinsi, Elson Egargue, kepada AFP.
Lebih jauh ke selatan di Catanduanes, sebuah pulau yang berisiko terkena “hantaman langsung”, penduduk berupaya mengamankan rumah mereka.
“Mereka memutuskan untuk mengikuti tradisi kami mengikat atap dengan tali besar dan menambatkannya di tanah, agar tidak tertiup angin,” ujar petugas penyelamat provinsi, Roberto Monterola.
Peringatan ini datang hanya beberapa hari setelah Topan Kalmaegi meninggalkan jejak kehancuran, menewaskan 204 orang di Filipina dan 109 lainnya masih hilang.
Tragisnya, badai yang mendekat ini telah memaksa penghentian operasi pencarian dan penyelamatan korban Kalmaegi di Provinsi Cebu, yang menyumbang hampir 70 persen dari total kematian di Filipina.
“Kami diperintahkan untuk menghentikan sementara pencarian, penyelamatan, dan evakuasi pukul 15.00 hari ini,” kata petugas penyelamat, Myrra Daven, pada hari Sabtu.
“Kami tidak bisa mempertaruhkan keselamatan tim penyelamat kami. Kami tidak ingin mereka menjadi korban berikutnya.”
Daven menambahkan bahwa jumlah 57 korban hilang yang dilaporkan di provinsi tersebut kemungkinan akan bertambah.
“Kami memperkirakan jumlah ini akan bertambah, karena masih ada wilayah yang belum bisa kami tembus. Beberapa jalur akses masih terblokir tanah dan hal-hal lainnya,” jelasnya.
Topan Kalmaegi sebelumnya juga melanda Vietnam pada hari Jumat, menewaskan sedikitnya lima orang dan menyebabkan sekitar 500.000 orang tanpa listrik. Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa badai tropis akan semakin kuat seiring dengan meningkatnya suhu global.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













