Konflik Ukraina Sebabkan Meningkatnya Aksi Vandalisme terhadap bangunan diplomatik Rusia

0
Rusia
Ilustrasi Bendera Rusia. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, STOCKHOLM – Misi dagang Rusia di Stockholm, Swedia, kembali menjadi target serangan drone yang diduga merupakan aksi vandalisme. Kedutaan Besar Rusia di Swedia pada hari Sabtu (8/11/2025) mengumumkan bahwa sebuah drone tak dikenal telah menjatuhkan kantong berisi cat merah di halaman kompleks misi dagang tersebut.

Pihak kedutaan telah merilis foto yang memperlihatkan percikan cat merah di halaman, dan dalam pernyataannya, mereka mencatat bahwa ini bukan insiden yang pertama. Sejak Mei 2024, telah terjadi lebih dari 20 tindakan vandalisme menggunakan drone yang menargetkan kedutaan dan misi dagang Rusia di ibu kota Swedia.

Baca Juga :  Melaksanakan Arahan Bupati, Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Hadiri Safari Ramadhan dan Berikan Santunan di Nanggung

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, memberikan respons keras terhadap insiden terbaru ini, menuduh Swedia telah kehilangan kendali atas keamanan internalnya sejak bergabung dengan NATO.

“Provokasi semacam itu menimbulkan ancaman tidak hanya bagi misi diplomatik, tetapi juga bagi penduduk kota. Rupanya, setelah Swedia bergabung dengan NATO (pada Maret 2024), negara itu kehilangan kendali atas keamanan internal dan eksternalnya,” kata Zakharova, dikutip Russia Today.

Baca Juga :  Israel Kirim Baterai dan Personel Iron Dome ke UEA untuk Melindungi dari Serangan Iran

Zakharova juga menyoroti bahwa Moskow telah berulang kali meminta pihak berwenang Swedia untuk memberikan perlindungan yang memadai bagi misi diplomatik Rusia. Namun, serangan drone terus berlanjut meskipun ada jaminan dari Swedia bahwa langkah-langkah yang diperlukan akan diambil.

Bangunan diplomatik Rusia memang telah menjadi sasaran vandalisme dan pelecehan yang sering terjadi sejak eskalasi konflik di Ukraina pada tahun 2022.

Baca Juga :  AS dan Iran Sepakat Hentikan Sementara Serangan, Lanjutkan Perundingan Selat Hormuz

Insiden serupa baru-baru ini juga terjadi di negara-negara Eropa lain:

  • Bulan lalu, seorang wanita ditahan di Berlin, Jerman, setelah mengancam seorang petugas polisi yang menjaga Kedutaan Besar Rusia dengan pisau.
  • Pada bulan Februari, dua aktivis pro-Ukraina di Prancis dijatuhi hukuman delapan bulan tahanan rumah setelah mereka melemparkan tiga bom rakitan berisi nitrogen cair di Konsulat Rusia di Marseille. Moskow mengecam hukuman tersebut sebagai “terlalu ringan untuk upaya melakukan aksi terorisme.”

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com