NARASITODAY.COM, ISTANBUL – Kremlin pada Senin menyampaikan harapan kuatnya agar pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat terwujud “lebih cepat daripada nanti,” di tengah mandeknya pembicaraan damai Rusia–Ukraina.
Dalam konferensi pers, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa Rusia menginginkan pertemuan puncak kedua pemimpin tersebut, namun menekankan pentingnya persiapan yang matang.
“Pertemuan tersebut hanya dapat terlaksana setelah melalui persiapan menyeluruh, dan Rusia berharap pertemuan puncak dapat dilakukan begitu kondisinya memungkinkan,” ujar Peskov.
Meskipun menyatakan harapan, Peskov mengakui adanya kesulitan untuk memprediksi kapan kondisi ideal tersebut dapat terpenuhi. “Meskipun tentu saja kami berharap semua syarat itu dapat dipenuhi sesegera mungkin,” tambahnya.
Harapan ini muncul menyusul kegagalan KTT Budapest yang direncanakan bulan lalu, yang dibatalkan oleh Trump. Trump saat itu beralasan ia tidak ingin menghadiri “pertemuan yang sia-sia.” Pertemuan terakhir Putin dan Trump terjadi pada Agustus lalu di Alaska.
Negosiasi Perdamaian yang Stagnan
Upaya mediasi yang dilakukan oleh Presiden Trump, yang dikenal telah berinteraksi dengan kedua pihak, belum mampu menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Moskow dan Kyiv. Konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga setengah tahun sejak Februari 2022 ini terus berlanjut, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan atas stagnasi negosiasi.
Peskov mengindikasikan bahwa sementara pembicaraan tingkat tinggi terhenti, ada saluran komunikasi lain yang tetap berjalan, terutama terkait masalah kemanusiaan.
Harapan Baru Pertukaran Tahanan
Salah satu titik fokus harapan adalah upaya pertukaran tahanan. Peskov mengonfirmasi bahwa komunikasi masih berlangsung di tingkat teknis mengenai mekanisme pertukaran tawanan antara Rusia dan Ukraina.
“Ada kontak di tingkat ahli mengenai pertukaran tahanan. Diskusi sedang berlangsung, tetapi saya tidak akan memberikan rincian saat ini,” kata Peskov.
Di sisi Ukraina, Sekretaris Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional Rustem Umerov pada Sabtu lalu menulis di media sosial bahwa ia baru saja melakukan konsultasi di Türkiye dan Uni Emirat Arab. Konsultasi tersebut difasilitasi oleh mitra internasional untuk melanjutkan proses pertukaran tahanan.
Menurut Umerov, hasil negosiasi tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mengaktifkan kembali pengaturan Istanbul, yang mencakup rencana pembebasan 1.200 warga Ukraina. Konsultasi teknis akan segera dilakukan untuk menyelesaikan detail prosedural dan organisasi.
Sebelumnya, Rusia dan Ukraina telah mengadakan tiga putaran pembicaraan damai di Istanbul pada Mei, Juni, dan Juli, yang menghasilkan pertukaran tahanan besar-besaran serta draf memorandum terkait potensi perjanjian damai jangka panjang. Upaya pengaktifan kembali pengaturan Istanbul ini menjadi salah satu harapan nyata di tengah beku nya jalur diplomatik tingkat tinggi.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














