
NARASITODAY.COM, DAKAR — Kekacauan politik melanda Guinea-Bissau setelah militer mengambil alih kekuasaan, menunjuk pemimpin baru, dan menghentikan pengumuman hasil pemilu.
Di tengah ketegangan itu, Presiden Umaro Sissoco Embalo dikonfirmasi telah tiba “dalam keadaan selamat” di Senegal menggunakan pesawat militer sewaan, sehari setelah ia ditahan dalam kudeta yang menggulingkan pemerintahannya.
Kementerian Luar Negeri Senegal mengonfirmasi informasi kedatangan Embalo tersebut.
Sementara itu di Bissau, militer Guinea-Bissau dengan cepat menunjuk Jenderal Horta N’Tam, kepala staf angkatan darat, sebagai pemimpin baru untuk masa satu tahun. Penunjukan ini dilakukan tepat satu hari sebelum otoritas pemilu dijadwalkan mengumumkan hasil sementara pemilihan presiden dan legislatif.
N’Tam mengucapkan sumpah jabatan di markas militer pada Kamis (27/11/2025).
“Saya baru saja disumpah untuk memimpin Komando Tinggi,” ujarnya, dilansir AFP, Jumat (28/11/2025).
Militer beralasan bahwa mereka bertindak “untuk menghentikan operasi yang bertujuan mengancam demokrasi kita” dan menunjuk Jenderal Tomas Djassi, mantan kepala staf pribadi Embalo, sebagai kepala staf angkatan bersenjata yang baru. Militer juga mengklaim telah mengungkap rencana yang melibatkan “gembong narkoba” termasuk upaya memasukkan senjata untuk mengubah tatanan konstitusional.
Aksi militer ini segera memicu tuduhan serius dari lawan politik Embalo. Fernando Dias da Costa, kandidat oposisi dan penantang utama Embalo dalam pemilu, menuduh Embalo “mengorganisir” kudeta tersebut demi mencegahnya mengambil alih jabatan presiden, di tengah indikasi ia memenangkan pemilu.
“Saya adalah presiden terpilih Guinea-Bissau,” kata Dias, yang memperkirakan memperoleh sekitar 52% suara. Menurut Dias, aksi militer bukanlah kudeta sesungguhnya. “Itu diorganisir oleh Tuan Embalo,” ujarnya kepada AFP.
Dias juga mengungkapkan dirinya terpaksa melarikan diri dari markas kampanyenya ketika pria bersenjata datang untuk menangkapnya, sementara tokoh oposisi lainnya, Domingos Simoes Pereira, dilaporkan ikut ditangkap.
Keraguan atas motif kudeta juga digaungkan oleh peneliti dan diaspora Guinea-Bissau. Mereka menduga perebutan kekuasaan tersebut justru menguntungkan Embalo.
“Ini adalah kudeta yang bertujuan mencegah kandidat oposisi, Fernando Dias, mengambil kekuasaan,” kata seorang peneliti Afrika Barat. “Ini adalah skenario ideal bagi Tuan Embalo, yang dapat, setelah negosiasi, dibebaskan dan berpotensi memosisikan diri kembali untuk pemilu berikutnya.”
Insiden ini memperpanjang catatan panjang gejolak politik di Guinea-Bissau. Sejak merdeka dari Portugal pada 1974, negara ini telah mengalami empat kudeta dan beberapa upaya kudeta lainnya.
Sementara ibu kota Bissau sempat lumpuh total pada Kamis dengan toko-toko tutup dan prajurit bersenjata berjaga, sejumlah pembatasan mulai dilonggarkan. Jam malam nasional dicabut, dan Komando Tinggi memerintahkan pembukaan kembali perbatasan, pasar, sekolah, serta institusi swasta.
Di tingkat internasional, Uni Afrika mengutuk kudeta tersebut dan menuntut pembebasan Embalo secara “segera dan tanpa syarat”. Julius Maada Bio, ketua blok regional Afrika Barat ECOWAS, menyebut insiden tersebut sebagai “pelanggaran berat terhadap tatanan konstitusional Guinea-Bissau”. Uni Eropa pun menyerukan “kembalinya tatanan konstitusional secepat mungkin dan dilanjutkannya proses elektoral”.****
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












