Pemimpin Perlawanan Myanmar Bo Nagar Serahkan Diri ke Junta Militer

0
Myanmar
Ilustrasi bendera nasional Myanmar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, SAGAING – Langit di atas wilayah Sagaing tengah menjadi saksi bisu sebuah ironi besar dalam palagan perang saudara di Myanmar. Seorang komandan yang dahulu merupakan simbol perlawanan paling sengit terhadap kudeta militer, kini justru menaiki helikopter milik musuhnya. Kabar menyerahnya Bo Nagar, pemimpin Burma National Revolutionary Army (BNRA), menandai babak kelam sekaligus retaknya solidaritas di tubuh kelompok anti-junta.

Media pemerintah, Myanma Alinn, melaporkan pada Kamis bahwa tokoh yang memiliki nama asli Naing Lin tersebut telah “kembali ke pangkuan hukum” pada Rabu (18/2/2026) sore. Penyerahan diri ini terjadi di Kotapraja Pale, sebuah kawasan yang ironisnya selama ini dikenal sebagai benteng pertahanan terakhir para gerilyawan.

Dari Garis Depan ke Tahanan Militer

Baca Juga :  SBY Ajak Dunia Waspada Ancaman Perang Dunia 3 dalam Konteks Ketegangan Geopolitik

Langkah dramatis Bo Nagar bukan sekadar perpindahan posisi, melainkan cerminan dari isolasi politik yang dialaminya. Foto-foto yang dirilis media pemerintah menunjukkan sang komandan bersama anggota keluarganya menyerahkan sejumlah senjata kepada otoritas militer.

Junta militer secara terbuka memanfaatkan momen ini untuk meruntuhkan mental kelompok perlawanan lainnya. Melalui surat kabar pemerintah, mereka menjanjikan bantuan dan imbalan bagi siapa pun yang mengikuti jejak Bo Nagar.

“Pihak perlawanan lain yang menyerahkan diri akan disambut dan diterima, diberikan bantuan dan dukungan yang diperlukan, serta imbalan tunai untuk setiap senjata dan amunisi,” tulis laporan resmi tersebut.

Dipicu Konflik Internal dan Tuduhan Kriminal

Kejatuhan Bo Nagar tidak terjadi dalam ruang hampa. Hubungannya dengan Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) pemerintahan bayangan yang dibentuk anggota parlemen yang digulingkan telah lama memburuk. Ketegangan memuncak ketika unit People’s Defense Force (PDF) menyerbu posisi BNRA setelah serangkaian perselisihan administratif dan tuduhan pelanggaran berat.

Baca Juga :  Pramono Anung Pastikan Transjabodetabek Tetap Disubsidi Meski Ada Penyesuaian Tarif

Pihak NUG mengklaim bahwa tindakan tegas terhadap kelompok Bo Nagar diambil setelah munculnya laporan mengenai tindak kriminal sistematis di wilayah kekuasaannya, mulai dari pemerasan di pos pemeriksaan hingga kekerasan seksual.

“Kami telah menerima laporan tentang pemerkosaan anak dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh beberapa anggota BNRA, termasuk Bo Nagar,” tegas Juru bicara NUG, Nay Phone Latt, dikutip dari The Associated Press, Senin (23/2/2026).

Nay Phone Latt menambahkan bahwa saat pihaknya berupaya menindak laporan tersebut, Bo Nagar justru tampak menjalin kontak dengan militer dan akhirnya dievakuasi menggunakan helikopter tentara.

Baca Juga :  5 Momen Harian yang Efektif Ajarkan Anak Skill Kepemimpinan

Simbol Perlawanan yang Padam

Pada awal kudeta 2021, Bo Nagar adalah sosok pujaan bagi para penentang junta. Memimpin Myanmar Royal Dragon Army, ia menjadi target utama operasi militer karena taktik gerilyanya yang efektif. Namun, ambisinya membentuk BNRA pada September 2023 dan melonggarkan ikatan dengan NUG justru memicu gesekan sporadis dengan sesama pejuang.

Kini, sosok yang dahulu bersumpah meruntuhkan kekuasaan jenderal Min Aung Hlaing itu berada dalam tahanan pihak yang pernah ia perangi. Di tengah perang saudara yang kian berlarut, menyerahnya Bo Nagar menjadi pengingat pahit bahwa musuh terbesar gerakan perlawanan terkadang bukanlah peluru lawan, melainkan perpecahan di dalam rumah sendiri.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com