
NARASITODAY.COM, JAKARTA – Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) telah menimbulkan dampak masif pada sektor pendidikan.
Per 7 Desember 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebanyak 2.798 satuan pendidikan mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam, dan lebih dari 208 ribu siswa serta 19 ribu guru/tendik menjadi korban terdampak secara langsung.
Menyikapi krisis ini, Kemendikdasmen segera mengumumkan tiga kebutuhan utama yang menjadi fokus dalam proses pemulihan pasca bencana.
“Yaitu penyediaan ruang kelas darurat, perlengkapan belajar bagi siswa, serta layanan dukungan psikososial untuk mempercepat kesiapan peserta didik mengikuti pembelajaran dalam situasi darurat,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Senin (8/12/2025).
Mendikdasmen Mu’ti merinci bahwa total bantuan langsung yang dikucurkan telah mencapai Rp 21,1 miliar untuk berbagai keperluan, mulai dari mendukung pembelajaran darurat hingga distribusi logistik. Secara spesifik, Kemendikdasmen telah mendistribusikan:
- Tenda Kelas Darurat: Sudah terpasang 4 tenda di Kota Padang dan Agam (Sumbar). Pengiriman 74 tenda lainnya sedang berlangsung (24 ke Aceh, 25 ke Sumut, dan 25 ke Sumbar).
- Perlengkapan Belajar: Disiapkan 10.000 paket school kit, 700 family kit, dan 2.000 sepatu. Sebanyak 1.500 paket school kit telah disalurkan ke Sumbar dan Sumut.
- Santunan Dana: Sumbar menerima Rp 5,7 miliar bantuan operasional tanggap darurat dan Rp 293 juta santunan bagi korban meninggal dan luka berat. Aceh menerima Rp 560 juta, sementara Sumut menerima Rp 220 juta.
Mu’ti, yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, menyebut sebanyak 52 Kabupaten/Kota terdampak mengalami gangguan pembelajaran. Walaupun sebagian daerah sudah mulai membuka sekolah secara bertahap, masih ada 15 Kabupaten/Kota di Aceh dan 2 daerah di Sumut yang belum dapat memulai pembelajaran. Khususnya di Kabupaten Agam (Sumbar), 93 sekolah masih berfokus pada pemulihan hingga 22 Desember 2025.
Menanggapi situasi ini, Kemendikdasmen menginstruksikan pelaksanaan pembelajaran darurat yang dimulai 8 Desember 2025.
“Untuk itu, mulai 8 Desember 2025, kami mengarahkan pelaksanaan pembelajaran darurat melalui berbagai pendekatan, termasuk pendirian ruang kelas sementara, penempatan siswa ke sekolah sekitar yang tidak terdampak, pengaktifan jadwal pembelajaran fleksibel, serta penggunaan modul pembelajaran kedaruratan,” jelasnya.
Kemendikdasmen juga memastikan kurikulum telah disiapkan secara berjenjang untuk fase tanggap darurat, yang mencakup skenario 3 bulan, 3 sampai 12 bulan, hingga 1 sampai 3 tahun, untuk memastikan proses pendidikan tetap berlanjut meski di tengah keterbatasan.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com












