Warga Aceh Tamiang Dayung Perahu 2 Jam di Tengah Malam Saat Banjir Besar

0
Rini saat ditemui di depan rumahnya di Dusun Tualang, Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. (Nizar Aldi/detikSumut)

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang beberapa waktu lalu menyisakan kisah haru dari para warga yang berjuang menyelamatkan diri. Salah satunya dialami Rini (46), warga Dusun Tualang, Desa Sungai Liput, yang menceritakan bagaimana ia bersama warga lain harus mendayung perahu menggunakan tangan menerobos gelap malam demi mencari tempat aman.

Air Sungai Tamiang mulai meluap sejak Rabu (24/11/2025) pagi. Namun kondisi berubah drastis pada sore hari, ketika air naik dengan cepat dan memaksa warga mengungsi ke puskesmas berlantai dua. Rini bersama suami dan anaknya hanya sempat membawa bahan makanan seadanya dan berkas penting sebelum meninggalkan rumah.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan Siapkan Keringanan Iuran untuk Warga Terdampak Bencana Aceh

Namun situasi memburuk pada Jumat (26/11) dini hari. Ketinggian air bahkan mencapai bagian lantai dua puskesmas, membuat warga panik dan bergegas mencari titik lebih tinggi. Bersama sekitar 20 warga lainnya—mulai dari lansia hingga anak-anak—Rini akhirnya naik ke perahu yang mereka pinjam dari seorang anggota DPRD setempat.

Baca Juga :  Keterangan Buronan Paulus Tannos Diharapkan Ungkap Pihak-Pihak Terlibat Kasus e-KTP

Di tengah malam gelap, Rini dan warga mendayung perahu dengan tangan selama dua jam. Air banjir yang mencapai 4–5 meter membuat mereka melintas di atas pohon sawit dan tiang kabel listrik, memaksa mereka berhati-hati agar tidak tersangkut.

“Jam 1 malam kami naik boat, jam 3 pagi baru sampai ke bukit,” ujarnya. Mereka bertahan tiga hari di posko pengungsian tersebut sebelum akhirnya kembali ke permukiman saat air mulai surut. Meski selamat, banyak rumah warga—termasuk rumah Rini—masih dipenuhi lumpur dan belum bisa ditempati.

Baca Juga :  Dari Layar Kaca ke Titik Bencana, Ratna Galih Tunjukkan Sisi Kemanusiaan yang Mendalam

Banjir ini disebut sebagai salah satu yang paling parah dalam puluhan tahun terakhir di wilayah tersebut. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan materi dan trauma warga masih membekas hingga kini. (MG3) 

 

Editor : Mutiara

Sumber : detiknews