NARASITODAY.COM, WASHINGTON — Senat Amerika Serikat menolak dua proposal yang saling bertentangan dari Partai Republik dan Demokrat untuk mengatasi krisis perawatan kesehatan yang mendesak, meninggalkan sekitar 24 juta warga Amerika dalam ancaman lonjakan tajam premi asuransi mulai 1 Januari mendatang, ketika subsidi federal berakhir.
Kebuntuan ini terjadi saat waktu semakin sempit. Kongres dijadwalkan memasuki masa reses libur akhir tahun pada pekan depan dan baru kembali bersidang pada 5 Januari, sementara premi baru akan segera ditetapkan bagi warga yang selama ini bergantung pada subsidi tambahan Undang-Undang Perawatan Terjangkau (Affordable Care Act/ACA).
Mengutip Reuters, Jumat (12/12/2025), dalam dua pemungutan suara berturut-turut, anggota Senat dari Partai Demokrat dan Republik saling memblokir rancangan undang-undang masing-masing, sehingga tidak satu pun proposal memperoleh dukungan yang cukup.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS masih berpeluang mencoba meloloskan rancangan undang-undang alternatif pada pekan depan, meski hingga kini belum ada draf resmi yang diumumkan. Namun, peluang keberhasilannya tipis karena Demokrat di Senat dan kemungkinan beberapa Republikan dapat menggagalkannya melalui mekanisme pemungutan suara.
“Setelah pemungutan suara hari ini, krisis perawatan kesehatan Amerika 100% berada di pundak mereka,” kata Pemimpin Mayoritas Demokrat Senat Chuck Schumer, merujuk pada Partai Republik.
Sementara itu, Pemimpin Minoritas Republik Senat John Thune menepis kritik tersebut. Ia menyebut rancangan undang-undang Demokrat sekadar alat politik. “Republikan siap untuk mulai bekerja. Saya belum yakin bahwa Demokrat tertarik,” ujarnya.
Kebuntuan politik ini berdampak langsung pada masyarakat. Perdebatan yang berlarut-larut di Kongres membuat sebagian warga ragu memperbarui asuransi kesehatan mereka melalui bursa Obamacare.
Data pemerintah menunjukkan persentase pelanggan yang memperpanjang polis sedikit menurun dibandingkan tahun lalu, dengan 19,9% pendaftar memilih memperbarui rencana asuransi sejauh ini, turun dari 20,5% pada periode yang sama tahun lalu.
Rancangan undang-undang Partai Republik yang diusulkan Senator Bill Cassidy dari Louisiana dan Mike Crapo dari Idaho menawarkan bantuan hingga US$ 1.500 bagi individu dengan pendapatan di bawah 700% dari garis kemiskinan federal sekitar US$ 110.000 untuk individu atau US$ 225.000 bagi keluarga beranggotakan empat orang pada 2025.
Namun, dana tersebut tidak dapat digunakan untuk layanan aborsi atau prosedur transisi gender dan mewajibkan verifikasi status kewarganegaraan atau imigrasi penerima, ketentuan yang ditolak oleh Partai Demokrat.
Sebaliknya, usulan Demokrat berfokus pada perpanjangan subsidi era COVID di bawah ACA selama tiga tahun untuk mencegah lonjakan premi asuransi. Tanpa intervensi Kongres, premi diperkirakan bisa melonjak lebih dari dua kali lipat secara rata-rata, menurut lembaga kebijakan kesehatan KFF.
Untuk meloloskan salah satu RUU, dibutuhkan sedikitnya 60 suara di Senat yang saat ini dikuasai Partai Republik dengan komposisi 53-47. Dalam pemungutan suara terakhir, empat senator Republik mendukung usulan Demokrat, sementara tidak satu pun senator Demokrat memberikan suara bagi RUU Republik.
Presiden Donald Trump relatif minim keterlibatan dalam perdebatan ini, meskipun pada akhirnya menyatakan dukungan terhadap pendekatan Cassidy-Crapo. Dalam acara Congressional Ball yang dihadiri anggota dari kedua partai, Trump memprediksi akan ada kerja sama lintas partai dalam isu perawatan kesehatan, namun tetap menegaskan pilihannya.
“Kami memiliki gagasan bahwa daripada melakukan pembayaran besar-besaran ini… (kepada) perusahaan asuransi, kami melakukan pembayaran besar-besaran langsung kepada masyarakat, dan mereka membeli asuransi mereka sendiri,” kata Trump dalam pidatonya di Gedung Putih.
Pembayaran US$ 1.500 dalam rancangan undang-undang Partai Republik dimaksudkan untuk membantu menutupi biaya awal yang harus ditanggung pemegang polis paket bronze atau catastrophic paket Obamacare berbiaya rendah sebelum perlindungan asuransi berlaku. Namun, jumlah tersebut masih jauh di bawah nilai deductible yang bisa mencapai US$ 7.500, sehingga pasien tetap harus menanggung sebagian besar biaya pengobatan sendiri.
Beban itu berpotensi membengkak dengan cepat. Biaya kunjungan ruang gawat darurat di AS berkisar antara US$ 1.000 hingga US$ 3.000, sementara layanan ambulans dapat mencapai US$ 500 hingga lebih dari US$ 3.500 angka yang bagi banyak warga berpenghasilan menengah bisa menjadi pukulan finansial besar di awal tahun.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














