NARASITODAY.COM, BEIRUT – Selama hampir sepuluh tahun, sosok misterius yang dikenal sebagai “Abu Omar” menjadi bayang-bayang di balik ruang-ruang VIP dan koridor kekuasaan di Lebanon. Dengan aksen Arab Teluk yang meyakinkan dan janji-janji manis dari Riyadh, ia berhasil mendikte pilihan politik para tokoh besar, sebelum akhirnya tabir penyamarannya runtuh di ujung sebuah panggilan telepon.
Pihak intelijen militer Lebanon baru saja menangkap aktor di balik topeng pangeran tersebut. Ia bukan seorang bangsawan, melainkan Mustafa al-Hessian, seorang warga negara Lebanon asal Akkar utara yang diduga bekerja sama dengan tokoh agama senior untuk memanipulasi lanskap politik negara tersebut.
Laporan The New Arab pada Rabu (24/12/2025) mengungkapkan bahwa penipuan sistematis ini telah dimulai sejak 2015. Dengan bantuan Sheik Khaldoun Araymet, al-Hessian diperkenalkan kepada para politisi sebagai “saluran tidak resmi” menuju otoritas tertinggi di Arab Saudi.
Strateginya sangat halus namun mematikan bagi mereka yang haus kekuasaan. “Ia menggunakan bahasa yang dikalibrasi dengan cermat dan jaminan berulang bahwa instruksi akan datang pada waktu yang tepat,” tulis laporan tersebut.
Daftar korbannya mencakup nama-nama mentereng dalam politik Lebanon, mulai dari mantan Menteri Pariwisata Michel Pharaon, Mohammad Choucair, hingga tokoh kuat seperti Kepala Pasukan Lebanon, Samir Geagea. “Para target diduga dijanjikan dukungan Arab Saudi untuk mengamankan kursi parlemen, kembali ke pemerintahan, atau bahkan mendapatkan jabatan perdana menteri (PM),” tambah laporan itu.
Penipuan ini tidak hanya soal pengaruh, tetapi juga aliran dana yang fantastis. “Penipuan khususnya berfokus pada tokoh-tokoh kaya atau mereka yang memiliki ambisi politik yang kuat,” tulis media tersebut.
Salah satu kasus yang mencuat adalah dugaan pemberian tunjangan bulanan sebesar US$4.000 (Rp67 juta) oleh Michel Pharaon kepada rekan konspirator al-Hessian. “Beberapa di antaranya dikatakan telah memberikan bantuan keuangan kepada Araymet atau rekan-rekannya, karena percaya bahwa hal itu terkait dengan jaminan politik dari Riyadh,” ungkap sumber keamanan.
Bahkan, pengaruh “Pangeran Palsu” ini merambah hingga kontrak proyek di Pelabuhan Beirut, yang menunjukkan betapa dalamnya ia menyusup ke dalam urusan negara.
Kehancuran al-Hessian terjadi secara dramatis layaknya adegan film. Kecurigaan muncul ketika “Abu Omar” selalu menghindari pertemuan tatap muka. Titik baliknya terjadi saat seorang korban mencoba menelepon sang pangeran saat sedang duduk tepat di sebelah al-Hessian.
Telepon di saku al-Hessian berdering di saat yang bersamaan, meruntuhkan kebohongan yang telah ia bangun selama sembilan tahun. Dalam interogasi, al-Hessian mengakui telah menyamar dengan aksen Teluk menggunakan nomor telepon internasional.
Peneliti politik Nidal al-Sabaa mengungkapkan bahwa al-Hessian memiliki latar belakang intelijen Suriah yang membantunya memperkuat ilusi tersebut. Kasus ini kini memicu kekhawatiran nasional, karena ada dugaan bahwa instruksi palsu dari “Abu Omar” sempat memengaruhi proses konstitusional dalam penunjukan Perdana Menteri Lebanon.
Hingga saat ini, investigasi masih terus berlanjut dengan koordinasi dari pihak berwenang Arab Saudi untuk mengungkap bukti audio dan video serta kemungkinan adanya tersangka tambahan lainnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














