Kisah Inspiratif Betran, Anak Penjual Es Teh yang Buktikan Bahwa Kerja Keras Mengalahkan Segalanya

0
Betran
Betran Yunior Buktikan Mimpi Pendidikan Bisa Dicapai.Foto : detik.com

NARASITODAY.COM, YOGYAKARTA – Riuh tepuk tangan membahana di Gedung Olahraga (GOR) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Selasa (23/12/2025). Di antara ribuan wisudawan, sosok Betran Yunior melangkah mantap dengan toga yang melekat di tubuhnya. Pemuda asal Kelurahan Duku, Palembang ini bukan sekadar lulusan biasa; ia adalah pemilik Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, 3,98 dari skala 4,00.

Di balik angka prestisius itu, tersimpan memori tentang aroma teh dan es batu di sebuah sudut sekolah di Palembang. Betran adalah putra dari Zulkarnain dan Wanida, pasangan gigih yang setiap hari menyambung hidup dengan berjualan es teh.

Meski kedua orang tuanya tidak mengenyam pendidikan tinggi, mereka memberikan “modal” yang lebih berharga dari uang: sebuah kepercayaan.

Baca Juga :  Reses II Tahun 2025-2026, DPRD Kabupaten Bogor Dengar Keluhan dan Harapan Warga Jasinga

“Tugasmu cuma belajar, biar pintar, tidak usah pikirin yang lain,” kenang Betran menirukan pesan sang ayah yang menjadi pemantik semangatnya selama merantau.

Menempuh studi di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY, Betran sadar betul bahwa ia memikul harapan besar. Baginya, berada di bangku kuliah adalah sebuah perjuangan yang harus dibayar dengan ketekunan. Ia tidak hanya sekadar hadir, tapi “menghidupkan” ruang kelas melalui diskusi-diskusi tajam dengan dosen.

“Keaktifan di kelas itu sangat membantu. Kalau kita sudah paham di kelas, waktu belajar di luar jadi lebih efisien,” tuturnya saat diwawancarai pada Jumat (26/12/2025).

Baca Juga :  Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor Gencar Vaksinasi untuk Cegah Penyebaran PMK

Ketekunan itu diuji saat ia berhadapan dengan momok banyak mahasiswa: Metodologi Penelitian. Namun, alih-alih menghindar, Betran justru menyelami setiap kesulitan dengan berdiskusi dan memanfaatkan literatur digital. Perjalanannya pun semakin ringan berkat dukungan beasiswa KIP-Kuliah, yang membebaskannya dari beban finansial yang sempat dikhawatirkan orang tuanya.

Perjalanan Betran tidak selalu mulus. Datang ke Yogyakarta seorang diri tanpa kerabat sempat membuatnya didera rasa kesepian yang hebat di awal masa kuliah. Namun, perlahan Yogyakarta menjadi rumah kedua baginya seiring hadirnya teman-teman seperjuangan yang menjadi sistem pendukung hingga ia meraih gelar S.I.Kom.

Baca Juga :  Thailand Pastikan MotoGP di Buriram Berlanjut hingga 2031

Bagi keluarga Zulkarnain, Betran adalah sejarah. Ia menjadi orang pertama dalam garis keturunan keluarganya yang berhasil menyandang gelar sarjana.

“Wisuda ini sangat berharga bagi saya dan keluarga. Ini membuktikan bahwa dengan niat dan tekad yang kuat, pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang mustahil,” ujar wisudawan yang kini membidik karier di industri kreatif tersebut.

Sebelum meninggalkan almamaternya, Betran menitipkan sebuah pesan bagi rekan-rekan mahasiswa yang masih berjuang. Ia mengingatkan bahwa kesempatan belajar adalah sebuah kemewahan yang tidak didapatkan semua orang.

“Duduk di bangku kuliah adalah sebuah privilese. Nikmati prosesnya, perbanyak teman, dan eksplor sebanyak mungkin pengalaman,” tutupnya dengan senyum bangga.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com