NARASITODAY.COM, JAKARTA – Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga tantangan besar dalam pelayanan kesehatan. Di hari-hari awal pascabencana, keterbatasan fasilitas medis membuat penanganan pasien belum berjalan optimal.
Gemma, relawan medis yang bertugas di Aceh Tengah, mengungkapkan bahwa rumah sakit dan fasilitas kesehatan mengalami keterbatasan serius, terutama untuk kasus-kasus berat. Ia menyebut banyak pasien dengan stroke perdarahan tidak tertolong karena belum dapat segera menjalani tindakan operasi.
Seiring berjalannya waktu, kondisi layanan kesehatan mulai berangsur pulih. Beberapa layanan penunjang seperti radiologi, laboratorium, hingga ketersediaan air bersih kini sudah kembali berfungsi. Meski demikian, kekurangan alat medis tertentu masih menjadi tantangan dalam proses penanganan pasien.
Selain pelayanan medis, para relawan juga memberikan perhatian pada kesehatan mental masyarakat terdampak. Trauma healing dilakukan di sejumlah posko pengungsian untuk membantu warga menghadapi dampak psikologis akibat bencana.
Direktur Utama RSUP H Adam Malik Medan, dr Zainal Safri, menyebut wilayah pesisir Aceh menjadi daerah dengan kondisi paling berat. Pada fase awal, aktivitas pelayanan kesehatan bahkan sempat terpusat di Instalasi Gawat Darurat karena ruang lainnya belum dapat digunakan.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus mendorong pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Menteri Kesehatan RI menekankan pentingnya dukungan moral bagi masyarakat, selain pelayanan medis, agar warga dapat perlahan bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal (MG3)Â
Sumber : detikHealth














